PERKEMBANGAN SEMANGAT GOTONGROYONG
DI INDONESIA
Terjadinya suatu negara dapat dilihat
dari segi fakta atau kenyataan sejarah di samping dari segi teori. Berdirinya
Negara Republik Indonesia
dapat dipelajari dari kenyataan sejarah. Bahwa bangsa Indonesia terbentuk dari zaman prasejarah, zaman
kerajaan, zaman penjajahan Barat, dan zaman perjuangan kemerdekaan Indonesia
(daerah/tradisional dan nasional/modern). Pengalaman sejarah inilah yang
mendasari berdirinya negara Indonesia.
Zaman prasejarah budaya
gotongroyong sudah melekat dalam kehidupan bangsa Indonesia. Seperti dalam kegiatan
berburu dan mengumpulkan makanan, bercocok tanam, membuat alat, membangun
tempat tinggal dan dalam berkepercayaan. Gotongroyong dalam kegiatan berburu
dan mengumpulkan makanan dikenal sebutan nyosor/ngiring
(Sumatera Selatan), melambu (Sulawesi
Tenggara), monyilo (Sulawesi Tengah).
Gotongroyong dalam kegiatan bercocok tanam dikenal sebutan marsiadapari (Tapanuli), sambatan
(Jawa Tengah), mapalus (Minahasa), sintuwu nasiolapale (Sulawesi Tengah), paarian (Riau), peparian (suku Banjar) dan
malleleng (suku Bugis) serta sistem
subak (Bali). Gotongroyong dalam kegiatan membuat alat seperti lesung batu
di Sumatera Utara, Lesung Kayu di Jawa dan perahu untuk menangkap ikan di
Sulawesi Tenggara. Gotongroyong dalam kegiatan pembangunan tempat tinggal
dikenal sebutan ngarawah namun lewo
(Kalimantan Selatan), sambatan (Yogyakarta), markarah
(Sumatera Utara). Sedangkan gotongroyong dalam berkepercayaan dilakukan dalam
penyelenggaraan upacara keagamaan/kepercayaan seperti upacara lepambai (permintaan maaf pada leluhur)
di Sulawesi Tenggara, ngayah (pengerahan
tenaga kerja gotongroyong) di Bali, upacara Mosehe (tolak bala dan kesuburan),
upacara pemane kolo rai (tolak bala
dan kesuburan) di Nusa Tenggara, dan upacara molamoa (kematian) di Sulawesi Tengah. Kegiatan gotongroyong
tersebut di atas sampai sekarang masih berlangsung. Tentu saja mengalami
perubahan (penambahan, pengurangan maupun penggantian) karena pengaruh agama
khususnya (zaman kerajaan) dan Barat (penjajahan dan modernisasi).
Gotongroyong juga menjiwai semangat
perjuangan melawan penjajah baik di daerah maupun nasional. Hal tersebut
diwujudkan dalam bentuk tenaga, fisik maupun logistik dalam perjuangan di
daerah-daerah seluruh Indonesia.
Sedangkan dalam perjuangan dan pergerakan kemerdekaan Indonesia diwujudkan
dalam bentuk ide/pemikiran dan pergerakannya seperti pembentukan perkumpulan
dan organisasi kepemudaan yang bersifat sosial budaya dan juga politik. Pada
akhirnya perjuangan dan pergerakan kemerdekaan Indonesia
mengarah kepada masalah mendasar Negara Indonesia seperti dasar negara dan
bentuk negara.
Dasar negara merupakan hal yang
amat penting bagi suatu negara. Mengapa? Karena dari sinilah konstitusi dan
konvensi serta peraturan perundang-undangan lainnya disusun. Sehingga setiap
bentuk kegiatan negara selalu bersumber dari dasar negara, Ground norm atau Staatsidee.
Karena itu, dasar negara menjadi perdebatan pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Sehingga memunculkan tokoh-tokoh seperti Soekarno yang berhaluan nasionalis dan
Muhammad Natsir yang berhaluan Islam modernis. Kaum nasionalis berpikiran bahwa
demi kemajuan negara dan agama itu sendiri maka harus dipisahkan. Sedangkan
kaum Islam modernis berpikiran bahwa agama dan negara harus satu karena Islam
merupakan agama yang lengkap yang mengatur segala sesuatu termasuk negara.
Perkembangan pemikiran para tokoh
perjuangan Indonesia
merdeka menemukan titik temu pada bentuk negara Indonesia Merdeka yaitu
Republik. Menurut Muhammad Yamin, bahwa negara Indonesia merdeka akan berbentuk
Republik telah diselidiki oleh tiga orang penganjur Indonesia, yaitu Datuk Tan
Malaka (1924), Ir. Soekarno (1932) dan Drs. Muhammad Hatta (1932) melalui
tulisan dan disampaikan kepada rakyat melalui Kongres Partai Indonesia di
Surabaya (1933).
Seperti diketahui, pada akhir
Desember 1941 Jepang masuk ke Indonesia
dan Belanda menyerah kepada Jepang tahun 1942. Penjajahan Jepang memberikan
penderitaan yang lebih besar dari penjajahan sebelumnya oleh Belanda. Namun demikian
semangat gotongroyong menemukan tempatnya pada saat pembentukan BPUKI dan PPKI.
Yaitu para tokoh dan pejuang dari berbagai daerah di Indonesia
bersatu padu merumuskan dan mengerucutkan tentang masalah kenegaraan Indonesia.
Seperti dasar negara dan konstitusi Negara Indonesia. Adapun aktualisasinya
adalah kesepakatan tentang proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Sedangkan PPKI sebagai lembaga nasional pertama berhasil membentuk lembaga
resmi negara pertama negara Indonesia yaitu lembaga eksekutif dengan terpilihnya
Soekarno dan Hatta sebagai presiden dan wakil presiden. Juga meletakkan dasar
hukum Pancasila dan hukum dasar (konstitusi) negara yaitu UUD 1945. Semua
dilandasi oleh semangat gotongroyong.
Bagaimanakah perkembangan semangat
gotongroyong tersebut dalam perkembangan bangsa Indonesia setelah merdeka?
Telah tercatat kasus besar maupun kecil yang mengindikasikan terjadinya
degradasi semangat gotongroyong tersebut. Pada tahun 1965 – 1966 tercatat
pembunuhan rakyat dalam jumlah besar. Hasil survey Kopkamtib dan dibantu
sekitar 150 sarjana pada tahun 1966 diketemukan data sebanyak 800.000 jiwa
terbunuh di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Sedangkan di Sumatera sebanyak 100.000 jiwa dan di Bali sebanyak 100.000 jiwa
terbunuh. Dewasa ini berkembang kasus gangguan, pengusiran dan bahkan pembunuhan
terhadap penganut agama dan kepercayaan. Seperti kasus penganut Ahmadiyah di
Lombok diusir dari kampung halamannya sendiri dan tidak boleh kembali menempati
rumahnya sampai sekarang. Di Cikesik, Banten, penganut Ahmadiyah diserbu
masyarakat sekitarnya memakan korban 3 orang warga Ahmadiyah terbunuh. Hal ini
juga terjadi terhadap penganut Syiah di Madura yang terpaksa diungsikan oleh
Pemda setempat ke Sidoarjo. Belum lagi kasus pembunuhan di Sampit yang memakan
banyak korban karena pertikaian antara suku Madura dengan suku daerah setempat.
Fakta tersebut menunjukkan persaudaraan kebangsaan Indonesia sedang terkoyak
dan semangat gotongroyong telah dilupakan.
Bagaimanakah dengan kehidupan
kelembagaan negara di Indonesia? Ada beberapa kasus yang terjadi antara lain :
1. Krisis kabinet selama orde lama karena mosi
tidak percaya DPR.
2.
Pembubaran konstituante oleh Presiden Soekarno.
3.
Penolakan LPJ Presiden BJ Habibi tahun 1999
4.
Impachment
Presiden Abdurahman Wahid oleh DPR-MPR
5.
Kedudukan DPD dan DPR yang tidak sejajar.
6.
Tidak terwakilinya kelompok-kelompok praktisi masyarakat
seperti petani, buruh, koperasi, LSM,
guru, seniman, dan lain-lain yang tidak
terikat ideologi partai dalam lembaga DPR.
7.
Munculnya kelompok poros tengah dan koalisi
seperti Koalisi Indonesia Hebat dan Koalisi Merah
Putih yang mengutamakan
perbedaan dan persaingan.
Semua kasus di atas menunjukkan semangat gotongroyong
dilupakan oleh penguasa atau pemimpin bangsa Indonesia. Sehingga mempengaruhi pola
gerak dan perkembangan serta pembangunan bangsa Indonesia menuju kematangan dan
kemajuan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Komentar
Posting Komentar