MASALAH CEMAS DAN PENANGANANNYA
Kecemasan
merupakan gejala psikopatologi terbesar dan terjadi karena reaksi kondisi
lingkungan yang baru dan berbeda. (Ghous at
al, 2015). Perlu
manajemen yang tepat untuk menangani cemas yaitu dengan psikoterapi. Untuk jenis
psikoterapi disini yang akan dilakukan adalah terapi realitas (PDSKJI,
2013).
Banyak
hal yang mempengaruhi terjadinya cemas yang perlu diketahui khalayak umum.
Untuk itu simak uraian berikut ini.
1.1. Pengertian
Kecemasan
adalah gangguan alam perasaan (affective)
yang ditandai dengan perasaan takut atau khawatir yang mendalam dan
berkelanjutan, tetapi kemampuan dalam menilai realitas (Reality Testing Ability/RTA) tidak terganggu, begitupun
kepribadiannya masih utuh (tidak mengalami keretakan kepribadian/splitting of personality), sedangkan
perilaku dapat terganggu walaupun masih dalam batas-batas normal (PPDGJ III).
Kecemasan juga bisa merupakan gejala dari
gangguan atau penyakit lain misalnya psikosis atau serangan miokard infark.
Kecemasan sebagai sindroma klinik, misalnya sebagai manifestasi gangguan
kepribadian menghindar atau fobik. Disini, cemas dirasakan mengganggu
apabila berdekatan dengan objek atau situasi yang ditakuti tetapi sebenarnya
tidak berbahaya. Sedangkan kecemasan yang berdiri sendiri berupa gangguan cemas
menyeluruh. Disini kecemasan dirasakan mengambang (free floating), tidak menentu dan tidak jelas penyebabnya (Kaplan
& Saddock).
Ditinjau
dari psikodinamika, kecemasan merupakan salah satu reaksi terhadap stresor psikososial
selain depresi. Stresor psikososial didefinisikan sebagai keadaan atau
peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam diri seseorang hingga orang itu
terpaksa mengadakan adaptasi atau penyesuaian diri untuk menanggulanginya.
Apabila seseorang tidak mampu melakukan adaptasi atau mengatasi stressor
tersebut maka timbulah keluhan-keluhan antara lain berupa cemas dan depresi.
Perbedaan dari reaksi tersebut adalah pada kecemasan yang dikeluhkan pasien
terutama adalah keluhan psikis berupa adanya rasa takut atau khawatir sedangkan
pada depresi yang dikeluhkan pasien terutama keluhan psikis berupa kemurungan
atau kesedihan (Maramis, 2001).
1.2. Epidemiologi
Menurut
studi pelayanan primer WHO yang dilakukan oleh Welter dan kawan-kawan bahwa
prevalensi ansietas di kawasan benua Eropa adalah sebesar 11,5%, dengan
perincian gangguan ansietas menyeluruh (GAD) sekitar 8,5%, kemudian gangguan
panik 2,2%, khusus gangguan agoraphobia 1,5%, kejadian ansietas untuk
seumur hidup 24,9%, fobia social 13,3%, fobia simpleks 9,8% (Howland and Thase,
2009).
1.3. Gejala dan Diagnosis
Gejala fisiologis terjadi pada beberapa sistem
dalam tubuh, gejala pada system kardiovaskuler (tekanan darah tinggi, jantung
berdebar, ingin pingsan, denyut nadi turun), gejala pada sistem pernafasan
(nafas cepat dan pendek, terengah-engah), gejala pada sistem neuromuscular
(gelisah, tremor, akral dingin, refleks meningkat), gejala sistem
gastrointestinal (nafsu makan turun, mual, diare), gejala pada sistem traktus
urinarius (sering kencing), gejala pada sistem integument (wajah kemerahan,
pucat, mudah berkeringat), gejala psikologis sikap tegang dan ketakutan,
ketegangan otot-otot, kesulitan untuk relaksasi, menurunnya kepercayaan diri,
perasaan akan berbahaya (Richardson, 2006).
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis yang
luas, pemeriksaan klinis yang teliti, pemeriksaan penunjang yang menunjang
untuk menegakkan diagnosis tertentu dan menyingkirkan diagnosis tertentu.
Sindroma ansietas baik dalam PPDGJ III, DSM-IV dan ICD 10 yakni gangguan panik
(PD), gangguan fobik, gangguan obsesif kompulsif (OCD), gangguan ansietas
menyeluruh (GAD), gangguan stress pasca trauma (PTSD) (DSM-IV).
1.4. Patologi Ansietas
1.4.1. Psikososial
Sumber
stress pada kehidupan sehari-hari bisa datang dari luar (lingkungan) dan dari
dalam individu sendiri, bentuknya bisa berupa frustasi akibat rintangan
terhadap tujuan individu atau konflik seperti ekstra dan intra psikis dan yang
lain berupa krisis yaitu suatu respon terhadap tuntutan yang tidak
disangka-sangka yang membuat ancaman terhadap fisik atau kehidupan seseorang
atau perubahan status dan susunan keluarga (Nuhriawangsa, 2001).
1.4.2. Neurobiologi
Kejadian
yang tidak menyenangkan akan dipersepsi oleh panca indera ke susunan saraf
pusat (SSP), yang akan melibatkan korteks serebri-sistem limbic-reticular
activating system-hipotalamus, kemudian akan memacu
kelenjar adrenal untuk mengeluarkan hormon mediator yang memacu syaraf otonom (Hypothalamus Pituitary Adrenal Axis = HPA
Axis). Adrenocorticotropic Hormone
(ACTH) memacu korteks pararenalis mengeluarkan kortikosteroid, dan
saraf simpatis memacu medulla pararenalis mengeluarkan katekolamin
(epinefrin dan norepinefrin). Kedua sel baik di korteks maupun medulla
adrenalis mengalami stress tahap 1 (teraktivasi). Seperti kita ketahui
bahwa limfosit mempunyai reseptor untuk glukokortikoid EPI maupun
NE sehingga dapat memodulasi limfositmengalami stress tahap 1
(teraktivasi). Sinyal stres ini memodulasi respon imun sehingga terjadi
perubahan psikoneuro-imunologis atau imunitas. Pada orang yang
mengalami stressor, akan mengalami terjadinya perubahan respon imun.
Stresor dapat berupa stressor psikologis, fisik, biologis, kimia (William and
Wilkins, 1997).
Tiga
neurotransmitter utama yang berhubungan dengan kecemasan berdasarkan
penelitian pada binatang dan respon terhadap terapi obat adalah norepinefrin,
serotonin, dan gamma aminobutyric acid (GABA)
(Howland et al., 2002).
Peranan
serotonin (5-HT) pertama kali didasarkan bahwa antidepresan serotonergic
memiliki efek terapeutik pada beberapa gangguan panik dan gangguan obsesif
kompulsif. Sebagian besar serotonin berlokasi di nucleus raphe
dibatang otak rostral dan berjalan ke korteks serebral, system limbic (khususnya amigdala
dan hipokampus), dan hipotalamus. Obat dengan efek serotonergic
yang menyebabkan pelepasan serotonin, menyebabkan peningkatan kecemasan
akut maupun kronis pada orang yang menggunakan obat-obat tersebut (Kaplan and
Sadock, 1998).
Neurotransmiter
GABA berperan dalam gangguan kecemasan didukung oleh manfaat benzodiazepine,
yang meningkatkan aktifitas GABA pada reseptor GABA a. Data tersebut telah
menyebabkan peneliti menghipotesiskan bahwa beberapa pasien dengan gangguan
ansietas memiliki fungsi reseptor GABA yang abnormal, walaupun hubungan
tersebut belum terbukti secara langsung (Kaplan and Sadock, 1998).
Salah
satu instrumen sebagai alat bantu diagnosis kecemasan adalah HRSA (Hamilton
Rating Scale for Anxiety). Alat ukur ini terdiri dari beberapa kelompok
gejala yang masing-masing kelompok dirinci dengan gejala yang lebih spesifik.
Masing-masing kelompok gejala diberi skor antara 0-4, yang artinya nilai 0
(tidak ada gejala), nilai 1 (satu dari gejala yang ada), nilai 2 (sedang/separuh
dari gejala yang ada), nilai 3 (berat/lebih dari setengah gejala yang ada),
nilai 4 (sangat berat/semua gejala ada). Masing-masing skor dari kelompok
gejala tersebut dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan dapat diketahui tingkat
kecemasan. HRSA banyak digunakan oleh peneliti karena mempunyai validitas dan
reliabilitas yang cukup tinggi (Hawari, 2001).
DAFTAR PUSTAKA
Corey, G. 2010. Teori dan Praktek Konseling-Psikoterapi. Refika
Aditama: Bandung.
Howland; Raison, C.L. & Miller, A.H. 2012. Psychoneuroimmunology Meets
Neuropsychopharmacology: Translational Implications of the Impact of
Inflammation on Behavior. Neuropsychopharmacology
Reviews (2012) 37, 137–162.
Hawari, D., 2001. “Manajemen Stres Cemas dan Depresi”,
Edisi ke-1, cetakan ke-2, Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
Kaplan
J.B & Sadock T.C. Sinopsis Psikiatri, Ilmu pengetahuan perilaku
psikiatri klinis. Edisi 7. Jakarta : Bina rupa aksara; 1997.
Kaplan
HI, Sadock, BJ. Eds. Comprehensive Textbook of psychiatry 7 ed.
Baltimore: Williams and Wilkins 1997 : 752-71
Kaplan
HI and Sadock, BJ., 2005. Psychoterapy,In
Kaplan and Sadock Comprehensive Text Book of Psychiatry, the 8 ed.
Lippncott Williams & Wilkins, Philadelphia, Baltimore, New York.
PPDGJ III: tentang kriteria dan pengertian kecemasan.
Rakhmat J. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya; 2009
Thase,
M.E., 2009. Mood Disorders: Neurobiology in Kaplan & Sadock's
Comprehensive Textbook of Psychiatry. 9th Ed. Lippincott Williams &
Wilkins.p: 1668-1670.
Komentar
Posting Komentar