SELUK
BELUK TENTANG DEPRESI
A. Pengertian
Depresi merupakan suatu
gangguan mood atau suasana yang ditandai dengan perasaan depresif, kehilangan
ketertarikan, penurunan nafsu makan, gangguan tidur dan penurunan konsentrasi.
Seseorang yang telah mengalami gangguan depresi berat dan dalam waktu yang lama
cenderung lebih drastis mengalami penurunan dalam hal semangat untuk hidup.
Oleh karena itu keinginan untuk bunuh diri sering ditemukan pada penderita dengan
gangguan depresi yang parah (WHO, 2010).
B. Epidemiologi
Wanita lebih sering
mengalami depresi dengan presentase 10-25% dibandingkan pria yang hanya 5-12%.
Hal ini dipengaruhi dengan perbedaan hormonal antara pria dan wanita, riwayat
melahirkan anak, tingkat ketahanan dalam menghadapi stressor serta kecenderungan
untuk bergantung pada orang lain. Walaupun wanita menempati peringkat teratas
dalam menderita depresi seumur hidup, angka kejadian bunuh diri pada pria
dengan depresi lebih tinggi ketimbang wanita dengan depresi. Faktor lain yang
juga berperan dalam membentuk gangguan depresi pada seseorang antara lain
adalah usia pertengahan (middle aged), tidak pernah menikah, mempunyai
riwayat cerai, status ekonomi rendah, disabilitas dan pengangguran (Kaplan dan
Saddock, 2005).
C. Etiologi
1. Faktor
Biologis
a.
Faktor Neurotransmitter
Emosi yang digambarkan dalam bentuk perilaku pada
diri seseorang diatur oleh bagian otak yang dinamakan system limbic dan hipotalamus.
Untuk menjalankan regulasi ini diperlukan neurotransmitter-neurotransmitter
yang nantinya akan menghubungkan impuls saraf dari satu neuron ke neuron
lainnya. Norepinephrine dan serotonin merupakan neurotransmitter
dominian yang ditemukan diarea limbic dan hipotalamus sehingga
paling sering disebut-sebut mempunyai peran dalam terjadinya depresi. Adanya
perubahan kadar salah satu atau kedua neurotransmitter ini diduga
mengakibatkan terjadinya gangguan mood yang berujung pada
ketidakstabilan dalam hal siklus tidur, nafsu makan dan memori (Kaplan dan
Saddock, 2005).
b.
Faktor Neuroendokrine
Pada seseorang dengan depresi ditemukan peningkatan
CRF-mRNA pada nucleus paraventrikuler yang mengakibatkan sekresi
hormon CRF pada hipotalamus. Kadar hormone CRF yang berlebihan kemudian
ikut meningkatkan sekresi hormone ACTH pada kelenjar pituitary sehingga
menimbulkan pembesaran korteks adrenal dan peningkatan hormone kortisol.
Keadaan hiperkortisolemia ini menyebabkan penurunan sensitifitas dari reseptor
glukokortikoid. Adanya gangguan pada reseptor glukokortikoid
dibagian otak seperti hipokampus menyebabkan timbulnya gejala depresi pada
seseorang (Ordway et al., 2002) .
c.
Faktor Neuroanatomi
Korteks prefrontal, amigdala dan hipokampus
merupakan struktur otak yang paling sering diteliti mengenai pengaruhnya
terhadap timbulnya depresi. Studi MRI memperlihatkan adanya penurunan volume
otak yang signifikan pada penderita depresi dibandingkan kelompok control.
Penurunan aktivitas pada korteks prefrontal bagian dorsolateral dihubungkan
dengan timbulnya gejala depresi seperti gangguan psikomotor dan anhedonia.
Aktivasi amygdala yang abnormal juga dapat mempengaruhi tingkat keparahan
depresi dan peningkatan resiko timbulya gangguan bipolar serta kecemasan
(Palazidou, 2012).
d.
Faktor Genetik.
Faktor genetik mempunyai peranan dalam pewarisan
bakat depresi pada kembar monozygot. Seseorang aka beresiko mengalami gangguan
mood baik unipolar ataupun bipolar sebesar 37% apabila saudara kembarnya juga
mengalami gangguan mood. Adanya variasi genetik sintesa protein Brain-derived
Neurotrophic Factor (BDNF) mempengaruhi struktur otak yang berperan dalam
pengatur emosi. Selain itu perbedaan genotype juga mempengaruhi
ketahanan diri terhadap stress lingkung an pada satu individu dengan yang lain.
Kesimpulan ini didapat dari 1000 anak yang dijadikan responden penelitian,
karier 5-HTTLPR lengan pendek cenderung memperlihatkan gejala depresi ketika
dihadapkan pada stress dari lingkungan (Caspi et al., 2003).
2. Faktor
Psikososial
Peristiwa yang terjadi
pada hidup masing-masing individu serta stress yang didapat dari lingkungan
sekitar dikatakan sebagai pemicu dari gangguan mood depresi untuk pertama
kalinya dibandingkan gangguan selanjutnya. Stresor lingkungan yang paling
sering ditemukan adalah kehilangan orang tua untuk anak berusia dibawah 11
tahun dan kehilangan pasangan. Kepribadian premiorbid membuktikan tipe
kepribadian yang terhindar dari depresi. Setiap individu baik yang memiliki
tipe kepribadian satu dan yang lainnya akan tetap memiliki resiko untuk
menderita depresi. Namun, tipe kepribadian satu dan yang lainnya akan tetap
memiliki resiko untuk menderita depresi. Namun, tipe kepribadian obsesif dan
histerikal mempunyai faktor resiko lebih tinggi dibandingkan yang lain (Kaplan
dan Saddock, 2005).
D. Diagnosis
Diagnosis depresi
dilakukan dengan menggunakan BDI (Beck
Depression Inventory). Pada individu dengan depresi sering ditemukan gejala
utama yaitu suasana perasaan (mood) depresif, kehilangan minat atau
kegembiraan, energi mudah lelah, dan berkurangnya aktivitas. Sementara itu
gejala lain yang sering menyertai gejala utama antara lain konsentrasi dan
perhatian berkurang, harga diri dan kepercayaan diri berkurang, perasaan
bersalah dan tidak berguna, pandangan masa depan yang suram dan pesimistis,
adanya keinginan untuk bunuh diri, gangguan tidur dan nafsu makan berkurang
(Kaplan dan Saddock, 2005).
DAFTAR PUSTAKA
Amir, N.
2007. Depresi : Aspek Neurobiologi,
Diagnosis dan Tatalaksana.FKUI : Jakarta.
Anand
A, Charney DS (2000). Norepinephrine Dysfunctionin Depression. J. Clin.
Psychiatry 61 (Suppl. 10), pp : 16-24
Blair,
2004, Helping older adolescent search for meaning in depression, journal of mental health Counseling.
Bjornlund
L (2010). Depression (disease and disorder). Farmimgton Hills : Lucent
books
Caspi, Sugden K, Moffitt TE et al. Influence
of life stress on depression: moderation by apolymorphism in the 5-HTT gene.
Science 2003; 301:386-389.
Corey, G. 2010. Teori dan Praktek Konseling-Psikoterapi. Refika
Aditama: Bandung.
Ghous,
M.; Gul, S.; Siddiqi, F.A.; Pervaiz, S. & Bano, S. 2015. Depression; Prevalence soldier wife.
Professional Med J 2015;22(2):263-266.
Gay M: The adjustment of
parents of wartime bereavement, in Stress and Anxiety, Vol 8. Edited by
Milgram NA. New York, Hemisphere, 1982, pp 47–50
Howland; Raison, C.L. & Miller, A.H. 2012. Psychoneuroimmunology Meets
Neuropsychopharmacology: Translational Implications of the Impact of
Inflammation on Behavior. Neuropsychopharmacology Reviews (2012)
37, 137–162.
Hawari,
D., 2001. “Manajemen Stres Cemas dan Depresi”, Edisi ke-1, cetakan
ke-2, Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Kaplan J.B
& Sadock T.C. Sinopsis Psikiatri, Ilmu pengetahuan perilaku psikiatri
klinis. Edisi 7. Jakarta : Bina rupa aksara; 1997.
Kaplan HI,
Sadock, BJ. Eds. Comprehensive Textbook of psychiatry 7 ed. Baltimore:
Williams and Wilkins 1997 : 752-71
Kaplan HI and
Sadock, BJ., 2005. Psychoterapy,In Kaplan
and Sadock Comprehensive Text Book of Psychiatry, the 8 ed. Lippncott
Williams & Wilkins, Philadelphia, Baltimore, New York.
Latipun.
2006. Psikologi Konseling. Malang, Penerbitan Universitas Muhammadiyah
Maramis, W.F., 2001. Dari Stres hingga Depresi dan
Anxietas. “Simposium Stress, Depresi dan ansietas Komorbiditas atau
permasalahan Klinis”, Konggres Nasional IV, Ikatan Dokter Ahli Jiwa,
Semarang.
Nuhriawangsa I, 2001. Depresi dan ansietas,
komorbiditas serta permasalahan klinis, “Konggres Nasional IV, Ikatan Ahli Jiwa
Indonesia”, Semarang.
Palazidou E (2012). The
neurobiology of depression. Br Med J, 10(1): 127-145
Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa
Indonesia. 2013. Panduan Gangguan Depresi
Mayor. PDSKJI : Jakarta.
Rakhmat J. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya; 2009
Sadock,
Benjamin J.; Sadock, Virginia A.; Ruiz, Pedro. 2009. Kaplan & Sadock's Comprehensive Textbook of
Psychiatry, 9th Edition. New York: Lippincott William & Wilkins.
Thase,
M.E., 2009. Mood Disorders: Neurobiology in Kaplan & Sadock's
Comprehensive Textbook of Psychiatry. 9th Ed. Lippincott Williams &
Wilkins.p: 1668-1670
Komentar
Posting Komentar