Langsung ke konten utama

HIPERTENSI



HIPERTENSI

Banyak orang yang tidak terlalu mendalam mengetahui seluk beluk tentang hipertensi yang sebenarnya berpotensi terjadi setiap orang. Yang harus diwaspadai adalah dampak yang serius berupa penyakit seperti stroke. Untuk mengetahui lebih jauh, pelajari uraian berikut ini.
A.    Pengertian
Hipertensi adalah tekanan darah sisteolik 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg. Penggolongannya hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder (Hardhy : 2012 : 237)
Hipertensi didefinisikan oleh Jorit National Commite on Detection, evaluation and treatment of high blood pressure (INS) sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat keparahannya mempunyai rantang darah (TD) normal tinggi sampai hipertensi maligna. Keadaan ini dikategorikan sebagai primery esensial (hamper 90% dari semua kasus) atau sekunder, terjadi sebagai akibat dari kondisi patologi yang dapat dikenali sering kali diperbaiki (Doenges, 2000: 39)
Tekanan darah adalah gerakan darah terhadap dinding-dinding arteri ketika darah tersebut dipompa dari jantung ke jaringan. Tekanan darah mirip dengan tekanan air (darah) di dalam pipa air (arteri). Makin kuat aliran yang keluar dari kran (jantung) makin besar tekanan dari air terhadap aliran pipa. Jika pipa ditekuk mengecil diameternya seperti pada arteriostklerosis maka tekanan darah meningkat (Alison, 2006:18)
Dan beberapa kumpulan di atas dapat ditarik kesimpulan dari hipertensi yaitu desakan darah yang berlebihan dan hampir konstan pada arteri. Tekanan dihasilkan oleh kekuatan jantung ketika memompa darah. Hipertensi berkaitan dengan kenaikan tekanan diasatolik, tekanan sistolik atau kedua-duanya.
Kategori hipertensi pada dewasa menurut Jackson (2009:13) adalah:
Kategori
TDS mmHg
TDD mmHg
Normal
Prahipertensi
Hipertensi derajat 1
Hipertensi derajat 2
< 120
120 – 139
140 – 159
>160
< 80
80 – 89
90 – 99
> 100

B.     Etiologi
Menurut Kusuma (2000: 237) berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu:
a.       Hipertensi primer (idiopatik)
Hipertensi ini tidak diketahui penyebabnya, terdapat 95% kasus factor yang mempengaruhinya, yaitu:
Ø  Genetik
Ø  Lingkungan
Ø  Hiperaktifitas saraf simpatik
Ø  System renal
Ø  Angiotensi
Ø  Peningkatan Na + Ca intraselular
Faktor yang meningkatkan resiko:
Ø  Obesitas
Ø  Merokok
Ø  Alcohol
Ø  Polistemia
b.      Hipertensi sekunder
Terdapat 5% kasus ada penyebabnya spesifiknya yaitu : penggunaan estrogen, penyakit ginjal, sindrom lusting dan hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan.
Perubahan hipertensi apda orang lanjut usia menurut Hardhy (2012: 237) adalah terjadinya perubahan-perubahan pada :
1.      Elastisitas dinding aorta menurun
2.      Katub jantung menebal dan menjadi kaku
3.      Kemampuan jantung memompa darah menurun
4.      Kehilangan elastisitas pembuluh darah
5.      Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.
C.     Tanda dan Gejala Hipertensi
Menurut Hardhy (2012:238) tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :
1.      Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat menghubungkan dengan peningkatan tekanan darah, selain pembentukan tekanan darah arteri oleh dokter yang memeriksa hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.
2.      Gejala yang lazim
Nyeri kepala dan kelelahan
Beberapa pasien yang mengeluh hipertensi yaitu :
a.       Mengeluh sakit kepala dan pusing
b.      Lemas dan kelelahan
c.       Sesak nafas
d.      Gelisah
e.       Mual
f.       Kesadaran menurun














D.    Pathofisiologi
Terdapat empat hal yang saling berkaitan dalam stabilitas tekanan darah yaitu sistem baroreseptor arteri, pengaturan volume, cairan tubuh, system renin angidensia dan pengatur pembuluh darah. Pembuluh barareseptor arteri dapat ditemukan pada karktorra sinus, aorta dan dinding ventrikel kiri. Barareseptor ini mengatur tingkat tekanan pembuh arteri dan mencegah melemahnya denyut jantung dan sasodilator dengan cara menurunkan denyut syaraf simpatik pengaruh dari pembuluh barareseptor arteri pada hipertensi tidak begitu diketahui kepekaan barareseptor dapat diatur sehingga kenaikan tekanan darah tidak terwujud mekanisme yang berlebihan terhadap system syaraf pusat yang akan mengakibatkan keguguran adranergik.
Perubahan volume cairan tubuh akan berpengaruh pada system tekanan autorial, sehingga ketidaknormalan transport ke tubulus ginjal dapat mengkibatkan munculnya hipertensi esensial. Jika kandungan sodium dan cairan terlalu banyak, maka volume lokal cairan darah akan naik yang akhirnya akan meningkatkan tekanan darah.
Renin dan angiotensin memainkan peranan yang penting dalam perubahan tekanan darah. Renin adalah satu enzim yang diproduksi oleh anak ginjal yang berfungsi sebagai katalisator, subtraksi plasma protein untuk memisahkan angrotensin, akan diubah oleh enzim ke paru-paru sehingga akan merubah bentuk menjadi angrotensin II dan akhirnya menjadi angiotensin III. Angiotensin II dan III fungsi sebagai rasokontilator dan control pembesaran aldasteron. Dan meningkatnya aktifitas system syaraf simpatik angiotensin II dan III akan mencegah suprejerenin telah diteliti menyebabkan meningkatnya sumbatan pembuluh darah dalam kasus hipertensi primer. Pasien juga dapat terkena hipertensi karena defisiensi dan fasodilator seperti prostaglandin atau ketidaknormalan tekanan saluran darah.
   (Carwin, 2006 : 112)



E.     Pemeriksaan Penunjang
1.      Hemoglobin atau hematokrit
2.      BUN atau kreatinin
3.      Glukosa
4.      Kalium serum
5.      Pemeriksaan tiroid
6.      Urinalisa
7.      Asam Urat
8.      EKG

F.      Komplikasi
1.      Stroke
2.      Infark miokard
3.      Gagal ginjal
4.      Ensofalopati
5.      PIH (Pregrancy Inducedht Pertention) (Cawn, 2000:359)

G.    Penanganan/ Intervensi
1.      Nyeri akut berhubungan dengan tekanan veskuler serebral.
Tujuan :   nyeri berkurang.
Kriteria hasil   : 1)    Nyeri berkurang
                          2)    nyeri hilang atau terkontrol
                          3)    tenang.
Intervensi        : 1)    Kaji skala nyeri
                          2)    Anjurkan istirahat dan batasi aktivitas
                          3)    Berikan posisi nyaman
                          4)    Ajarkan teknik relaksasi
5)    pemberian terapi analgetik


2.      Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
Tujuan :   nutrisi tercukupi.
Kriteria hasil   : 1)     Terpenuhi nutrisi yang adekuat
                          2)    Selera makan meningkat
                          3)    mampu menghabiskan porsi menu makan
Intervensi        : 1)    Monitor perkembangan nutrisi
                          2)    Lakukan perawatan oral sebelum dan sesudah makan
                          3)    Beri makan keadaan hangat
                          4)    Anjurkan pasien untuk makan sedikit tapi sering

3.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum
Tujuan :   dapat beraktivitas secara mandiri
Kriteria hasil   : 1)    dapat melakukan aktivitasnya
                          2)    Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan
                          3)    Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas
Intervensi        : 1)    Bantu mengidentivikasi aktivitas yang disukai
                          2)    Tingkatkan istirahat, batasi aktivitas dan berikan aktivitas yang ringan
                          3)    Anjurkan agar tirah baring saat masih sakit
                          4)    Timbang berat badan dan lakukan aktivitas secara bertahap









DAFTAR PUSTAKA

Doenges E. Marlynn, 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC
Hardhy, Kusuma, 2012. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan NANDA NIC NOA. Yogyakarta: Media Hardhy
Hull, Alison. 2001. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika
Jackson, Marilynn. 2009. Seri Panduan Praktis Keperawatan Klinis. Jakarta: EGC
Crown; Elizabeth J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC



Komentar

Postingan populer dari blog ini

METODE CLIA DAN PRINSIP PENINGKATAN KUALITAS DARAH

METODE CLIA DAN PRINSIP PENINGKATAN KUALITAS DARAH DALAM MENGURANGI INFEKSI MENULAR LEWAT TRANSFUSI DARAH A.     Latar Belakang Satu tetes darah, satu kantong darah bisa menyelamatkan satu kehidupan, satu nyawa manusia dengan donor darah. Karena itu setiap pendonor diberikan pengetahuan tentang darah, cara menjadi donor darah yang berguna dan proses pengolahan donor darah, syarat donor darah yang baik, s eleksi donor, alur donor darah di PMI. Donor darah diambil pada setiap orang sekitar 250ml, maksimal 450 ml. Darah yang sudah terkumpul di Reagen (kantong darah) biasa didapatkan mobil unit PMI per harinya 600-800 kantung darah yang beredar, belum lagi yang donor darah langsung di PMI. Cukup banyak kalau dilihat dari jumlahnya, namun semua darah itu harus melalui proses skrining IMLTD/Infeksi Menular Lewat Transfusi (pemeriksaan sekorologi darah). Ada dua metode dalam penyaringan darah yaitu NAT dan CLIA, NAT untuk memeriksa virus dalam darah dan metode CLI...

TEKNIK TERAPI REALITAS

TEKNIK TERAPI REALITAS Terapi dalam dunia kedokteran dewasa ini menjadi alternatif atau perlakuan medis bersifat khusus atau tambahan. Namun demikian sangat direkomendasikan karena beberapa kelebihan yang dimiliki dan resiko yang lebih kecil. Karena itu penting untuk memahami seluk beluk terapi realitas. A.     Pengertian Terapi Realitas   Terapi realitas adalah suatu sistem psikoterapi yang difokuskan pada tingkah laku sekarang. Terapis berfungsi sebagai guru dan model serta mengkonfrontasikan klien dengan cara-cara yang bisa membantu klien menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain. Inti terapi realitas adalah penerimaan tanggung jawab pribadi yang dipersamakan dengan kesehatan mental (Corey, 2010). Terapi realitas dikembangkan oleh William Glasser (1965) yang berpandangan bahwa semua manusia memiliki kebutuhan dasar yaitu kebutuhan fisiologis dan psikologis. Kedua kebutuhan ini dig...

PENGGUNAAN METODA CLIA DAN SISTEM ADVIA CENTAUR XP

MANFAAT DAN KELEBIHAN PENGGUNAAN METODA CLIA DAN SISTEM ADVIA CENTAUR XP SERTA ADVIA CENTAUR CP DALAM PEMERIKSAAN DARAH A.     Latar Belakang Transfusi darah merupakan jalur ideal bagi penularan penyebab infeksi tertentu dari donor kepada penerima darah. Meskipun demikian, resiko tersebut dapat dikurangi dengan cara seleksi donor secara hati-hati, uji saring langsung dari darah yang didonasi dan pengambilan komponen khusus dari darah yang dianggap menyembunyikan penyebab infeksi; contohnya , dengan filtrasi darah untuk mengangkat sel darah putih. Tidak semua penyebab infeksi dapat dideteksi secara langsung pada darah yang didonasi. Dalam uji saring darah biasanya dicari antibodi spesifik yang melawan pembawa infeksi. Dalam kasus-kasus tertentu, suatu darah tidak terinfeksi tetapi pada kasus-kasus lain darah tersebut masih bisa menularkan infeksi. Beberapa organisme memiliki sifat kelatenan yaitu menjadi aktif kembali bila waktu dan kondisi memungkinkan....