HIDROCEPHALUS
A.
Defenisi
Hidrosefalus merupakan
penumpukan cairan serebrospinal secara aktif yang menyebabkan dilatasi sistem
ventrikel otak. Walaupun pada kasus hidrocefalus eksternal pada anak-anak
cairan akan berakumulasi di dalam rongga araknoid.
Ada beberapa istilah dalam klasifikasi
hidrocefalus: (Satyanegara, 2010)
1. Hidrosefalus
interna: menunjukkan adanya dilatasi ventrikel
2. Hidrocefalus
eksternal: cenderung menunjukkan adanya pelebaran rongga subarachnoid di atas
permukaan korteks
3. Hidrosefalus
komunikans adalah keadaan hidrocefalus dimana ada hubungan antara system
ventrikel dengan rongga subarachnoid otak dan spinal
4. Hidrocefalus
nonkomunikans bila ada blok di dalam sistem ventrikel atau salurannya kerongga
subarachnoid
Berdasarkan
waktu onzetnya
1. Akut : dalam beberapa hari
2. Subakut : dalam beberapa minggu
3. Kronis : bulanan
Berdasarkan
gejala yang ada
1. Hidrocefalus
arrested menunjukkan keadaan dimana faktor-faktor yang menyebabkan dilatasi ventrikel pada saat tersebut sudah
tidak aktif lagi
2. Hidrocefalus
ex-vacuo adalah sebutan bagi kasus
ventrikulomegali yang diakibatkan oleh atrofi otak primer, yang biasanya
terdapat pada orang tua
Secara
teoritis terjadi sebagai akibat
1. Produksi
likuar yang berlebihan
2. Peningkatan
resistensi aliran likuar
3. Peningkatan
tekanan sinus venosa
B.
Etiologi
Hidrocefalus dapat
terjadi karena gangguan sirkulasi liquor di dalam system ventrikel atau oleh
produksi berlebihan liquor. Hidrocefalus obstruktif atau nonkomunikans terjadi
bila sirkulasi liquor otak terganggu, yang kebanyakan disebabkan oleh stenosis
akuaduktus sylvius, atresia foramen
magendi dan luschka, malformasi vaskuler, atau tumor bawaan. Hidrosefalus
komunikans yang terjadi karena produksi berlebihan atau gangguan penyerapan
juga jarang ditemukan. (Wim de jong)
C.
Tanda Dan Gejala
1. Pembesaran
tengkorak, hipotrofi otak
2. Kelainan
neurologi ( Mata selalu mengarah ke bawah, gangguan perkembangan motorik,
gangguan penglihatan)
3. Terjadi
penipisan korteks cerebrum yang permanen bila penimbunan cairan dibiarkan
4. Vena
kulit kepala sering terlihat menonjol
5. Pada
bayi yang suturanya masih terbuka akan terlihat lingkar kepala fronto oksipital
yang makin membesar, sutura yang meregang dengan fontanel cembung dan tegang
(Wim de jong)
Pertumbuhan
kepala normal terjadi pada 3 bulan pertama. Lingkar kepala akan bertambah
kira-kira 2 cm setiap bulan. Pada 3 bulan berikutnya penambahan akan
berlangsung lebih lambat.
|
Ukuran rata-rata lingar kepala
|
|
|
Lahir
Umur
3 bulan
Umur
6 bulan
Umur
9 bulan
Umur
12 bulan
Umur
18 bulan
|
35
cm
41
cm
44
cm
46
cm
47
cm
48,5
cm
|
Sumber:
ilmu bedah dejong hal:810
D.
Pemeriksaan
penunjang
1. Pengukuran
lingkar kepala setiap hari
2. Pertumbuhan/
pembesaran kepala yang cepat
3. CT
Scan, MRI, EEG
4. Isotope
Ventrikulograms
E.
Penatalaksanaan
Pada sebagian
penderita, pembesaran kepala berhenti sendiri (Arrested hydrocephalus) mungkin oleh rekanalisasi ruang
subarachnoid atau kompensasi pembentukan CSS yang berkurang. Tindakan bedah
belum ada yang memuaskan 100%, kecuali bila penyebabnya ialah tumor yang masih
bisa diangkat (Wim de jong)
Ada 3 prinsip pengobatan hidrocefalus
yaitu:
1. Mengurangi
produksi CSS dengan merusak sebagian pleksus koroidalis, dengan tindakan
reseksi atau koagulasi, akan tetapi hasilnya tidak memuaskan
2. Memperbaiki
hubungan antara tempat produksi CSS dengan tempat absorbsi yakni menghubungkan
ventrikel dengan ruang subarachnoid. Misalnya, ventrikulo-sisternostomi
Torkildsen pada stenosis akuaduktus. Pada anak hasilnya kurang memuaskan,
karena sudah ada insufisiensi fungsi absorbsi.
3. Pengeluaran
CSS ke dalam organ ekstrakranial
Penanganan sementara
Penanganan ini dilakukan untuk
mengatasi pembesaran ventrikel dan dapat diterapkan pada beberapa situasi
tertentu seperti pada kasus stadium akut hidrocefalus pasca perdarahan.
Penanganan sementara yang dapat dilakukan antara lain: (Woodwarth GF)
1. Terapi
konserfatif medikamentosa: ditujukan untuk membatasi evolusi hidrocefalus
melalui upaya mengurangi sekresi cairan dan pleksus choroid (asetazolamid 100
mg/kgBB/hari; furosemid 1,2 mg/kgBB/hari) atau upaya meningkatkan resorspsinya
(isorbid). Terapi di atas hanya bersifat sementara sebelum dilakukan terapi
defenitif diterapkan atau bila ada harapan kemungkinan pulihnya gangguan
hemodinamik tersebut; sebaliknya terapi ini tidak efektif untuk pengobatan
jangka panjang mengingat adanya resiko terjadinya gangguan metabolik
2. Drainase
likuor eksternal; dilakukan dengan memasang kateter ventrikuler yang kemudian
dihubungkan dengan suatu kantong drain eksternal. Keadaan ini dilakukan untuk
penderita yang berpotensi menjadi hidrocefalus (hidrocefalus transisi) atau
yang sedang mengalami infeksi. Keterbatasan tindakan ini adalah adanya ancaman
kontaminasi likuor dan penderita harus selalu dipantau secara ketat. Cara lain
yang mirip dengan metode ini ialah punksi ventrikel yang dilakukan berulang
kali untuk mengatasi pembesaran ventrikel yang terjadi
Operasi
Pemasangan Pintas (Shunting)
Sebagian besar pasien hidrocefalus
memerlukan shunting, bertujuan membuat aliran liquor baru (ventrikel atau
Lumbar) dengan kavitas drainase (seperti:
peritoneum, atrium kanan, pleura). Pada anak-anak lokasi kavitas yang terpilih
adalah rongga peritoneum, mengingat mampu menampung kateter yang cukup panjang
sehingga dapat menyesuaikan pertumbuhan anak serta resiko terjadi infeksi
relatif lebih kecil dibanding rongga jantung. Biasanya cairan LSS didrainase
dari ventrikel, namun terkadang pada hidrocefalus kommunikan ada yang didrain
ke rongga subarachnoid lumbar.(Satyanegara)
Drainase yang terlalu banyak dapat
menimbulkan komplikasi lanjutan seperti terjadinya efusi subdural,
kraniosinostosis, lokulasi ventrikel, dan hipotensi ortostatik.
Penanganan alternatif
Tindakan alternatif
selain operasi pintas (Shunting) diterapkan khususnya bagi kasus-kasus yang mengalami sumbatan di dalam sistem
ventrikel termasuk juga saluran keluar
ventrikel IV (misal: stenosis akuaduktus, tumor Fossa Posterior, kista
arachnoid). Dalam hal ini maka tindakan terapiutik semacam ini perlu
dipertimbangkan terlebih dahulu, walaupun kadang lebih rumit daripada memasang
Shunt, mengingat restorasi aliran liquor menuju keadaan atau mendeteksi normal
selalu lebih baik dariada suatu drainase yang artifisial.
Penanganan yang
dapat dilakukan antara lain:
1. Terapi
etiologik; penanganan terhadap etiologi hidrocefalus merupakan strategi terbaik,
seperti antara lain: pengontrolan kasus yang mengalami intoksikasi vitamin A,
reseksi radikal lesi massa yang menggangu aliran liqour, pembersihan sisa darah
dalam liquor atau perbaikan suatu malformasi. Pada beberapa kasus diharuskan
untuk melakukan terapi sementara terlebih dahulu sebelum diketahui secara pasti
lesi penyebab, atau masih memerlukan tindakan operasi shunting karena kasus
yang mempunyai etiologi multifactor atau mengalami gangguan aliran liquor
skunder.
2. Penetrasi
membrane; penetrasi dasar ventrikel III merupakan suatu tindakan membuat jalan
alternatif melalui rongga subarachnoid bagi kasus-kasus stenosis akuaduktus
atau gangguan aliran pada fossa posterior (termasuk tumor fossa posterior).
Selain memulihkan fungsi sirkulasi liquor secara pseudofisiologi,
ventrukulostomi III dapat menciptakan tekanan hidrostatik yang uniform pada
seluruh sistem saraf pusat sehingga mencegah terjadinya perbedaan tekanan pada
struktur-struktur garis tengah yang rentan.
DAFTAR PUSTAKA
NANDA NIC-NOC. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda,
Edisi Revisi Jilid 2.MediAction. Yogyakarta
Komentar
Posting Komentar