Langsung ke konten utama

DIABETES MILITUS



DIABETES MILITUS

Diabetes Militus (DM) merupakan penyakit yang diwaspadai karena sering terjadi di masyarakat khususnya pada orang dewasa dan lansia. Sehingga ada baiknya diketahui semua kalangan dalam upaya mencegah dan memelihara kesehatan.
1.      Definisi Diabetes Militus
Diabetes militus ialah penyakit Hiperglikemi yang ditandai dengan ketidakadaan absolute insulin/penurunan relative insensitivitas sel ada insulin (Corwin, 2009). Diabetes militus yaitu kelainan defisiensi dari insulin dan kehilangan toleransi pada glukosa (Rab, 2008).
4 tie utama diabetes, yaitu :
·           Type I      :    DM tergantung insulin, diperlukan suntikan insulin untuk mengkontrol kadar gula darah.
·           Type II     :    Non Insulin Dependent Diabetes Melllitus (NIDDM)
Diakibatkan oleh penurunan sensitivitas pada insulin atau akibat penurunan jumlah pembentukan insulin.
·           DM Type lain    : kelainan genetik, obat, infeksi, penyakit pankreas, penyakit dengan karakteristik gangguan endkrin dan sindroma penyakit lain.          
·           Diabetes Kehamilan :    gestasional DM, Diabetes yang terjadi pada perempuan hamil yang sebelumnya tidak mengidap Diabetes.

2.      Etiologi
a.       DMTI
·         Faktor genetic
Penderita Diabetes tidak mewarisi Diabetes type I namun mewarisi sebuah predisposisi atau sebuah kecenderungan genetic kea rah terjadinya DM Type I. kecenderungan genetic ini ditentukan pada individu yang memiliki type antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu.

·         Faktor imunologi
Sebuah respon autoimun, respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal tubuh secara bereaksi terhadap jaringan sendiri yang dianggap sebagai jaringan asing.
·         Faktor lingkungan

b.      NIDDM
Memiliki pola familiar yang kuat. Terjadi paling sering pada orang dewasa, dimana terjadi obesitas pada individu, obesitas dapat menurunkan jumlah reseptor dari dalam sel target insulin di seluruh tubuh. Jadi membuat insulin yang tersedia kurang efektif dalam meningkatkan efek metabolic yang biasa.

3.      Gejala dan Tanda
a.       DM Tipe I
-          Hiperglikemiaberpuasa
-          Glukosuria, diuresis osmotic, polyuria, polidipsi, polifagia
-          Keletihan dan kelemahan
-          Ketoasidosis diabetic (mual, nyeri abdomen, muntah, hiperventilasi, nafas bau buah, ada perubahan tingkat kesadaran, koma, bahkan menyebabkan kematian)
b.      DM Tipe II
-          Keletihan, gampang tersinggung, polyuria, polidipsi, luka para kulit yang sembuhnya lama, penglihatan kabur.
-          Komplikasi jangka panjang – Retinopati, neuropati, penyakit vaskuler perifer.

4.      Pathofisiologi
Pada tipe I terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin dikarenakan sel-sel beta pankreas sudah dihancurkan oleh proses autoimun.
Hiperglikemi puasa terjadi akibat produksi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Glukosa terjadi karena konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi maka ginjal tidak bisa menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar.
Ketika glukosa yang berlebihan di ekskresikan ke dalam urin, ekskresi ini dapat disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan.                    Kondisi ini yang disebut diuresis osmotic. Akibat dari kehilangan cairan berlebihan, pasien bakal mengalami peningkatan dalam berkemih (polyuria), rasa haus (polidipsi). Defisiensi insulin dapat mengganggu metabolism protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat badan, pasien akan mengalami peningkatan selera makan (polifagia).
Gejala lain mencakup kelelahan dan kelemahan. Dalam keadaan normal insulin mengendalikan terjadinya glikogenolisis (pemecahan glukosa yang disimpan) dan gluconeogenesis (pembentukan glukosa baru dari asam-asam amino dan substansi lain). Terjadi pemecahan lemak yang mengakibatkan peningkatan tubuh keton yaitu asam yang mengganggu keseimbangan asam basa tubuh apabila jumlahnya terlalu berlebihan. Ketoasidosis yang diakibatkannya akan menyebabkan tanda-tanda dan gejala seperti nyeri pada abdomen, mual, muntah, hiperentilasi, nafas berbau aseton. Dan apabila tidak ditangani bakal menimbulkan perubahan kesadaran, koma bahkan menyebabkan terjadi kematian.
Pada tipe II, resistensi insulin disertai dengan adanya sebuah penurunan reaksi intrasel, insulin menjadi tidak efektif buat mensitmulasi pengambilan glukosa oleh jaringan. Pada penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat.
Seringkali terjadi pada penderita yang berumur lebih dari 30 tahun dan obesitas akibat intoleransi glukosa yang berlangsung lambat dan progresif sehingga awalnya terjadi tanpa terdeteksi, gejala tersebut sering bersifat ringan, dan bisa mencakup kelelahan, polyuria, iritabilitas, polidipsi, luka pada kulit yang lama sembuh-sembuh, pandangan yang kabur (apabila kadar glukosanya sangat tinggi).

5.      Pemeriksaan diagnostic
-          Glukosa darah : gula darah puasa > 130 ml/dl, tes toleransi glukosa        > 100 mg/dl, 2 jam sesudah pemeriksaan glukosa.
-          Asam lemak bebas : kadar lipid dan kolesterol meningkat
-          Aseton plasma (keton) positif secara mencolok
-          Osmolaritas serum : meningkat, namun umumnya < 330 mosm/l
-          Elektrolit : Na bisa saja normal, meningkat/menurun, K normal atau terjadi peningkatan semu, seterusnya akan menurun, fosfor sering menurun.
-          Trombosit darah : Ht meningkat (dehidrasi), leukositosis, dan hemokonsentrasi yaitu respon pada stress atau infeksi.
-          Gas darah arteri : menunjukkan PH rendah dan penurunan HCO3
-          Ureum/kreatinin : kemungkinan meningkat atau normal
-          Urine : gula dan aseton positif
-          Kultur dan sensitvitas : mungkin saja adanya lsk, infeksi pernafasan dan infeksi luka.

6.      Penatalaksanaan medis
Menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam usaha untuk mengurangi terjadinya sebuah komplikasi vaskuler serta neuropati.
Tujuannya mencapai kadar glukosa darah dalam batas normal tanpa terjadi hipoglikemi dan gangguan serius pada pola aktivitas pasien sehari-hari.
Ada 5 komponen penting dalam penatalaksanaan DM :
a.       Diet
b.      Latihan fisik
c.       Penyuluhan
d.      Obat tablet OAD/ obat hipoglikemik oral
e.       Cangkok pankreas.

Komentar

  1. Live dealer casino, live games & promotions - YogangFC
    Live casino games and promotions. Live dealer gaming, casino games 라이브 스코어 사이트 and promotions. Live casino 코인갤러리 games and 코인갤 promotions. Live casino 골든 리치 games 호벳 and promotions. Live casino games and promotions.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

METODE CLIA DAN PRINSIP PENINGKATAN KUALITAS DARAH

METODE CLIA DAN PRINSIP PENINGKATAN KUALITAS DARAH DALAM MENGURANGI INFEKSI MENULAR LEWAT TRANSFUSI DARAH A.     Latar Belakang Satu tetes darah, satu kantong darah bisa menyelamatkan satu kehidupan, satu nyawa manusia dengan donor darah. Karena itu setiap pendonor diberikan pengetahuan tentang darah, cara menjadi donor darah yang berguna dan proses pengolahan donor darah, syarat donor darah yang baik, s eleksi donor, alur donor darah di PMI. Donor darah diambil pada setiap orang sekitar 250ml, maksimal 450 ml. Darah yang sudah terkumpul di Reagen (kantong darah) biasa didapatkan mobil unit PMI per harinya 600-800 kantung darah yang beredar, belum lagi yang donor darah langsung di PMI. Cukup banyak kalau dilihat dari jumlahnya, namun semua darah itu harus melalui proses skrining IMLTD/Infeksi Menular Lewat Transfusi (pemeriksaan sekorologi darah). Ada dua metode dalam penyaringan darah yaitu NAT dan CLIA, NAT untuk memeriksa virus dalam darah dan metode CLI...

TEKNIK TERAPI REALITAS

TEKNIK TERAPI REALITAS Terapi dalam dunia kedokteran dewasa ini menjadi alternatif atau perlakuan medis bersifat khusus atau tambahan. Namun demikian sangat direkomendasikan karena beberapa kelebihan yang dimiliki dan resiko yang lebih kecil. Karena itu penting untuk memahami seluk beluk terapi realitas. A.     Pengertian Terapi Realitas   Terapi realitas adalah suatu sistem psikoterapi yang difokuskan pada tingkah laku sekarang. Terapis berfungsi sebagai guru dan model serta mengkonfrontasikan klien dengan cara-cara yang bisa membantu klien menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain. Inti terapi realitas adalah penerimaan tanggung jawab pribadi yang dipersamakan dengan kesehatan mental (Corey, 2010). Terapi realitas dikembangkan oleh William Glasser (1965) yang berpandangan bahwa semua manusia memiliki kebutuhan dasar yaitu kebutuhan fisiologis dan psikologis. Kedua kebutuhan ini dig...

PENGGUNAAN METODA CLIA DAN SISTEM ADVIA CENTAUR XP

MANFAAT DAN KELEBIHAN PENGGUNAAN METODA CLIA DAN SISTEM ADVIA CENTAUR XP SERTA ADVIA CENTAUR CP DALAM PEMERIKSAAN DARAH A.     Latar Belakang Transfusi darah merupakan jalur ideal bagi penularan penyebab infeksi tertentu dari donor kepada penerima darah. Meskipun demikian, resiko tersebut dapat dikurangi dengan cara seleksi donor secara hati-hati, uji saring langsung dari darah yang didonasi dan pengambilan komponen khusus dari darah yang dianggap menyembunyikan penyebab infeksi; contohnya , dengan filtrasi darah untuk mengangkat sel darah putih. Tidak semua penyebab infeksi dapat dideteksi secara langsung pada darah yang didonasi. Dalam uji saring darah biasanya dicari antibodi spesifik yang melawan pembawa infeksi. Dalam kasus-kasus tertentu, suatu darah tidak terinfeksi tetapi pada kasus-kasus lain darah tersebut masih bisa menularkan infeksi. Beberapa organisme memiliki sifat kelatenan yaitu menjadi aktif kembali bila waktu dan kondisi memungkinkan....