GOTONGROYONG
SEBAGAI BUDAYA MANUSIA DAN MASYARAKAT INDONESIA
Manusia Indonesia bermula dari
manusia purba yang hidup di Indonesia pada kala Plestosen Awal, sekitar 1,9
juta tahun yang lalu. Pada masa ini hidup Pithecanthropus Modjokertensis dan Meganthropus
Palaeojavanicus. Manusia hidup dalam kelompok-kelompok kecil, melaksanakan
perburuan dan pengumpulan bahan pangan sebagai mata pencaharian utama.
Perburuan hewan besar dilakukan oleh sekelompok manusia, bekerjasama mulai dari
menentukan siasat perburuan, dilanjutkan dengan berburu, membawa hasil buruan
ke pangkalan dan kemudian membaginya. Proses ini membutuhkan komunikasi yang
baik, dan untuk itu dibutuhkan alat komunikasi, misalnya isyarat. Komunikasi
juga dibutuhkan dalam pembuatan alat dan meneruskan pengetahuan dari satu
generasi ke generasi berikutnya. Berburu hewan besar membutuhkan ingatan dan
asosiasi, disertai dengan kemampuan bertindak cepat dan kerjasama. Hasil buruan
dibawa pulang ke pangkalan dan dibagikan kepada semua warga kelompok. Dalam
kehidupan berburu pembagian kerja juga telah ada. Perburuan hewan besar hanya
dilakukan oleh laki-laki dewasa, perempuan dan anak-anak serta orang tua
tinggal di pangkalan dengan tugas mengumpulkan bahan makanan dari sekitarnya
seperti hewan kecil, buah-buahan, biji-bijian, umbi-umbian dan daun-daunan.
Perburuan dan pengumpulan
makanan menjadi kegiatan pokok sehari-hari dengan peralatan dari batu, kayu dan
tulang. Penghidupan manusia pada masa itu sangat berat, menghadapi banyak
tantangan, dengan kemampuan sangat sederhana. Manusia harus mempertahankan diri
menghadapi berbagai tantangan untuk bertahan hidup. Pada masa itu telah terjadi
perburuan hewan besar, yang memungkinkan berbagi makanan dalam suatu kelompok
manusia, bahkan menyimpannya untuk sementara waktu. Berburu hewan besar harus
dilakukan oleh suatu kelompok besar, dan untuk itu perlu perencanaan bersama.
Tentu telah terjadi komunikasi dengan isyarat yang saling dimengerti oleh
mereka. Manusia dengan kemampuannya yang masih sangat terbatas, menghadapi
berbagai ancaman, antara lain dari binatang buas. Kondisi seperti ini membuat
manusia perlu bekerjasama satu dengan yang lain, bantu-membantu, agar dapat
bertahan hidup dan melanjutkan keturunan dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Manusia sejak awal telah terbiasa hidup berkelompok, bekerjasama
dalam berbagai kegiatan, seperti berburu dan mengumpulkan bahan makanan
lainnya, membuat tempat tinggal, menghadapi berbagai ancaman, membuat alas
kerja dan mendidik anak-anaknya. Manusia memenuhi kebutuhan hidupnya dengan
memanfaatkan apa yang tersedia di alam. Mereka berburu dan mengumpulkan bahan
pangan dari alam sekitarnya. Di Indonesia cara hidup berburu dan meramu makanan
secara sederhana telah dijalankan oleh manusia Pithecanthropus dan manusia
Wajak (Homo Sapiens) pada kala Plestosen.
Sekelompok manusia bekerjasama, dimulai dengan mengatur siasat untuk berburu
hewan besar, kemudian bersama-sama memburunya, menangkap dan melumpuhkan,
membawa pulang ke pangkalan dan membaginya kepada semua warga kelompok.
Kerjasama seperti ini disebut sebagai gotongroyong.
Gotongroyong menjadi kebutuhan
bersama manusia Indonesia sejak dulu kala, karena setiap individu menyadari
bahwa banyak pekerjaan yang terlalu berat untuk dikerjakan sendiri. Berburu
hewan besar dan menangkap ikan di laut terlalu berat untuk dikerjakan sendiri.
Menebang hutan untuk membuka lahan pertanian, membangun tempat tinggal dan
pembuatan alat besar seperti perahu dan lesung batu terlalu berat dikerjakan
oleh satu keluarga. Gotongroyong menjadi jawaban terhadap beban berat itu, dengan
hasil yang lebih banyak untuk dibagi bersama. Gotongroyong memberi kesempatan
kepada manusia di masa lalu untuk kerjasama secara sukarela, tanpa bayaran, dan
memberi manfaat yang adil bagi semua peserta.
Paparan di atas menunjukkan
bahwa gotongroyong telah menjadi cara hidup manusia Indonesia sejak mereka
berburu hewan besar. Masyarakat dengan pengetahuan, keterampilan dan peralatan
yang sangat sederhana bergotongroyong menghadapi tantangan besar. Gotongroyong
adalah cara hidup masyarakat Indonesia, agar dapat bertahan hidup, melanjutkan
keturunan, dan berkembang. Gotongroyong menjadi pusat peradaban bangsa
Indonesia, cara hidup masyarakat penghuni kepulauan Indonesia sejak lebih dari
1 juta tahun lalu, tumbuh dan berkembang sejak berbagai kelompok manusia
Indonesia berburu hewan besar. Manusia gotongroyong adalah pekerja keras,
bekerjasama secara sukarela, dan bantu-membantu berdasarkan semangat
persaudaraan demi kebaikan bersama.
A. Gotongroyong Adalah Kerjasama
Manusia adalah mahluk sosial.
Manusia membutuhkan satu sama lain agar dapat bertahan hidup dan berkembang
sebagai manusia. Terjadi interaksi antar individu dan antara individu dengan
masyarakat dalam kondisi saling membutuhkan, menumbuhkan cara hidup kerjasama
untuk membentuk suatu masyarakat. Oleh karena itu dapat dimengerti sejak awal
kehidupan manusia telah terbentuk masyarakat, tempat semua individu hidup dan
berkembang. Beberapa keluarga menjadi jumlah minimum untuk membentuk suatu
masyarakat. Mereka tinggal di suatu lokasi yang sama, dan lokasi tersebut tidak
harus menetap, berinteraksi satu dengan yang lain secara tertib dan terus
menerus, dengan komunikasi simbolis, menjalani hidup bersama, dalam upaya
mempertahankan hidup, melanggengkan bangsa manusia, maju dan berkembang.
Herbert Blumer memperkenalkan premis
interaksionisme simbolik sebagai berikut: Pertama: Manusia melakukan tindakan terhadap sesuatu berdasarkan makna
yang dimiliki sesuatu tersebut untuk mereka. Kedua: Makna dari sesuatu
tersebut muncul dari interaksi sosial yang dialami seseorang dengan sesamanya. Ketiga:
Makna yang dihadapi dimodifikasi melalui suatu proses interpretatif yang
digunakan orang dalam berhubungan dengan sesuatu yang ditemui. Manusia saling
menerjemahkan dan mendefinisikan tindakannya, dan bukan hanya sekedar bereaksi
terhadap aksi orang lain'. Menggunakan premis Blumer ini, puluhan, ratusan atau
bahkan ribuan manusia yang tinggal berdekatan berinteraksi, bertindak
berdasarkan makna dari suatu simbol, dimodifikasi melalui suatu proses
interpretatif, dan kemudian terbentuklah suatu masyarakat, dengan berbagai
kesepakatan demi kelangsungan hidup dan kebaikan bersama. Interaksi berlangsung
antar individu, antara individu dengan masyarakat, dan antar berbagai kelompok
masyarakat. Dalam interaksi tersebut terjadi proses saling mempengaruhi antara
individu dengan masyarakat.
Masyarakat mempengaruhi individu dalam upaya menjamin
kelangsungan tatanan yang ada, dan individu mempengaruhi masyarakat, agar dari
waktu ke waktu masyarakat bergerak maju. Interaksi berlangsung dalam bentuk
kerjasama dan konflik. Kerjasama menghasilkan saling pengertian, saling
memperhatikan dan saling membantu. Konflik yang berkepanjangan akan mengganggu
kerjasama, dan dapat berubah menjadi permusuhan, antara lain dalam bentuk
perang. Oleh karena itu, agar lebih banyak tenaga dan waktu digunakan untuk
saling membantu dari pada saling membunuh, kerjasama harus lebih banyak terjadi
dari pada konflik. Dengan kerjasama kehidupan lebih terjamin dan peradaban
manusia dapat berkembang, antara lain dalam bentuk perubahan dari masyarakat
tanpa negara menjadi masyarakat bernegara. Tetapi kalau konflik sangat dominan
dan berlangsung berkepanjangan, masyarakat manusia tidak dapat berkembang, atau
bahkan punah.
Pada awal kehadiran manusia, waktu
jumlah manusia masih sedikit, dengan pengetahuan sekedarnya, dan menghadapi
ancaman alam yang sangat besar, seperti bencana alam dan binatang buas, konflik
yang berkepanjangan akan membahayakan keberadaan manusia.
Sesuai dengan
pemikiran di atas, dalam kehidupan bersama manusia, kerjasama harus menjadi
bentuk interaksi manusia yang paling dominan. Dalam upaya menjamin kelangsungan
bangsa manusia, dan agar dari waktu ke waktu dapat terus bergerak maju, manusia
sejak awal kehadirannya di muka bumi sampai sekarang harus lebih banyak
kerjasama dari pada konflik. Sejak awal kehadiran manusia sampai sekarang ini,
ada hukum yang tidak pernah berubah, "hidup adalah kerjasama". Peradaban
manusia berkembang terutama hasil kerjasama antar manusia, baik dalam
lingkungan masyarakat, negara maupun dunia. Sejarah manusia adalah sejarah
tentang kerjasama.
B. Manusia Gotongroyong Adalah Pekerja
Keras
Manusia dikaruniai akal dan nurani
oleh Pencipta, dan dengan akal dan nurani manusia berpikir. Manusia berpikir,
mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan, mempelajari yang benar dan yang
salah, baik dan buruk, menentukan apa yang perlu dilakukan dan tidak perlu.
Kemampuan berpikir membuat manusia mampu bertindak bebas, yaitu kemampuan untuk
mengambil keputusan. Manusia mempunyai bakat, asal-usul dan pengalaman yang
berbeda-beda, tetapi manusia tidak dapat hidup dan melanjutkan keturunannya
sendiri. Manusia hidup, tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat dengan
menjawab tantangan yang dihadapi bersama-sama. Semakin berat tantangan dihadapi
semakin besar pula jawaban yang dibutuhkan, dan tantangan itu tidak dapat
dijawab secara individual. Tantangan itu dijawab bersama, bersatu padu,
bantu-membantu dan kerja keras dalam semangat persaudaraan, demi kebaikan
bersama.
Gotongroyong
bercocok tanam, seperti mapalus
berkebun di Minahasa, gotongroyong berkebun di Riau, peladang berpindah di
Sulawesi Tenggara, sintuwu nosiopale
(di Sulawesi Tengah), berburu hewan besar dan berbagai bentuk gotongroyong lainnya
bisa berhasil, selain dengan kerjasama juga dengan kerja keras. Dalam mapalus misalnya, kerja di lahan milik
seorang peserta harus selesai pada waktunya karena lahan milik peserta lainnya
menunggu giliran. Mapalus, dengan prinsip
setiap orang dibantu menurut gilirannya, sejak awal telah menentukan luas lahan
yang akan dikerjakan untuk masing-masing peserta dan gilirannya. Pengaturan
seperti ini hanya akan berhasil kalau peserta mapalus kerja keras dan disiplin waktu. Dalam semua gotongroyong,
peserta pemalas juga akan
merusak semangat kerja peserta yang lain.
Gotongroyong adalah kerja
keras dan kerjasama sukarela demi kebaikan bersama. Dalam kehidupan bersama,
masyarakat gotongroyong bekerja keras menghadapi berbagai permasalahan bersama.
Kerja keras adalah pusat kehidupan dalam interaksi antar warga masyarakat,
menjawab tantangan bersama demi kemajuan bersama, aman, sejahtera dan adil.
Dalam masyarakat gotongroyong bermalas-malasan adalah tindakan tercela dan
warga pemalas akan menjadi beban dan dijauhi oleh warga masyarakat lainnya.
Dalam masyarakat gotongroyong, para pemalas harus belajar kerja keras agar tidak
tersisih dari masyarakat. Kerja keras adalah keharusan bagi individu, masyarakat dan bangsa untuk
kehidupan yang lebih baik. Manusia gotongroyong adalah pekerja keras. Kerja
dibutuhkan dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup tiap-tiap orang dan
keluarganya. Kerja
adalah aktualisasi diri, tampil di masyarakat sebagai suatu individu yang utuh,
dan berfungsi dalam pemeliharaan kehidupan fisik, mental dan spiritual. Kerja
adalah keharusan bagi individu, masyarakat dan bangsa untuk kehidupan yang
lebih baik dan maju. Kerja adalah kebutuhan semua orang, kaya ataupun miskin,
laki-laki ataupun perempuan, muda ataupun tua. Kerja adalah cara terhormat untuk
menjalani kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat. Kerja adalah aktualisasi
diri, tampil di masyarakat sebagai individu utuh, dan dibutuhkan dalam
pemeliharaan kesehatan fisik, mental dan spiritual.
Kerja adalah juga cara untuk memuliakan Tuhan. Max Weber dalam penelitiannya
tentang Etika Protestan menemukan hubungan antara kerja keras warga Protestan
dengan ibadah dalam rangka memuliakan Tuhan. Kerja keras menjadi bagian penting
dari ibadah. Kerja keras bukan sekedar cara untuk meningkatkan pendapatan,
tetapi lebih dari itu sebagai sikap memuliakan Tuhan dan ungkapan syukur.
C. Gotongroyong
Adalah Sukarela, Bebas
dan Setara
Gotongroyong dilaksanakan secara
sukarela oleh sekelompok individu bebas. Manusia setara, tidak ada pihak yang
diberi kewenangan untuk memaksa orang lain ikut bergotongroyong.
Gotongroyong
pembuatan lesung batu di Negeri Sagala, Sumatera Utara memberikan
kebebasan kepada para tetangga untuk ikut atau tidak ikut. Warga yang tidak ikut serta tetap boleh
menggunakan lesung tersebut, tetapi biasanya mereka malu. Dan karena lesung
batu tetap dibutuhkan, mereka biasanya mengajak warga lain di sekitarnya membuat
lesung batu lain, juga secara gotongroyong. Perkembangan selanjutnya, di satu
desa dapat tersedia banyak lesung batu sesuai kebutuhan. Gotongroyong adalah
kerjasama secara sukarela oleh sekumpulan manusia bebas dan mandiri.
Menjadi manusia bebas berarti terbebas dari rasa
ketidakberdayaan dan ketergantungan.
Manusia bebas menghormati kebebasan orang lain, sebagaimana ia menggunakan hak
kebebasannya. Manusia bebas terhadap paksaan dari luar, dan juga bebas terhadap
paksaan dari dalam dirinya sendiri. Bebas terhadap paksaan dari luar
dilaksanakan dengan mengurangi peraturan yang otoriter. Bebas terhadap paksaan
dari dalam diri sendiri berarti bebas dari sifat menghakimi, mau benar sendiri
dan keinginan untuk memaksakan kehendak pada orang lain. Individu yang
bebas dari paksaan dari dalam dirinya sendiri adalah manusia yang
rasional dan toleran, menempatkan tingkah-lakunya di bawah kendali akal sehat.
Manusia bebas mengambil keputusan sesuai dengan keinginannya, dan sekali ia
memutuskan, ia bertanggungjawab atas akibat dari keputusannya. Oleh karena itu
kebebasan tidak dapat dipisahkan dari tanggungjawab. Setiap orang yang
menggunakan hak kebebasannya, pada saat yang sama ia harus memikul
tanggungjawab. Sering terjadi seseorang tidak menggunakan hak kebebasannya
bukan karena ia tidak mau bebas, tetapi karena ia tidak mau memikul
tanggung jawab sebagai konsekuensi dari penggunaan kebebasan.
Kebebasan memberi kesempatan
menjelajah kemana-mana, termasuk ke tempat yang salah. Demi keselamatan
bersama, semua pemikiran tentang kepentingan umum harus dipertanggungjawabkan
di depan umum. Debat antar berbagai pemikiran perlu untuk menguji kebenarannya.
Masyarakat dapat memilih atau mensintesakan berbagai pemikiran sesuai dengan
kebutuhannya. Perbedaan pendapat diselesaikan dengan dialog dan debat yang
tetap menjamin kebebasan setiap peserta untuk membela pendapatnya. Menjadi
manusia bebas berarti terbebas dari rasa ketidakberdayaan.
Individu yang bebas dari paksaan dari
dalam dirinya sendiri adalah manusia yang rasional dan toleran, menempatkan
tingkah-lakunya di bawah kendali akal sehat. Individu yang menghargai kebebasan
lebih mengutamakan kemampuannya
sendiri dari pada bantuan pihak lain. Individu mandiri suka mengambil inisiatif
dan melaksanakannya dengan senang hati, dan menerima hasil perbuatannya dengan
baik, berhasil ataupun gagal. la menggunakan hak kebebasan dalam hidup dan
memikul tanggung jawab atas pilihannya. Dalam kehidupan kemasyarakatan dan
kenegaraan harus ditemukan perimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab.
Kalau perimbangan ini dapat ditemukan akan tercipta individu yang kreatif dalam
masyarakat yang dinamis dan negara yang demokratis. Hubungan antara individu,
masyarakat dan negara menjadi harmonis dan sinergis.
Masyarakat
bebas berisi individu yang kreatif dan dinamis, meningkatkan produktivitasnya,
dan kemudian meningkatkan kemakmuran bersama. Semakin banyak individu yang
kreatif mendorong masyarakat menjadi lebih makmur dengan kemakmuran yang lebih
merata dan adil. Manusia mempunyai bakat, asal-usul dan pengalaman yang berbeda
satu dengan yang lainnya, karena itu untuk memberikan kesempatan setiap
individu yang berbeda-beda itu dibutuhkan
cara yang berbeda pula. Pilihan cara seperti ini membutuhkan kebebasan.
Kebebasan menjadi hak-sekaligus kebutuhan bagi kemajuan umat manusia.
Kebebasan
dan perdamaian harus bersama-sama. Di mana tidak ada perdamaian, tidak ada
kebebasan. Sebaliknya di mana tidak ada kebebasan, tidak ada perdamaian. Di
mana tidak ada perdamaian, kebebasan itu ditindas, dan penindasan tidak
membutuhkan dialog, tetapi senjata. Oleh karena itu, tuntut kebebasan dengan
cara-cara damai, dan wujudkan perdamaian dengan memelihara dan menjamin
kebebasan.
Kebebasan
dan perdamaian harus berjalan seiring, dan kondisi itu hanya dapat terjadi
dalam negara demokrasi. Kombinasi perdamaian, kebebasan dan pertanggungjawaban
dalam negara demokrasi akan membuahkan keadilan. Perjuangan dalam negara
demokrasi bermodalkan kebebasan, dan kebebasan mengharuskan pertanggungjawaban.
Manusia sebagai warganegara menggunakan hak kebebasan secara bertanggungjawab,
bergerak bersama-sama memperjuang-kan keadilan bagi rakyat seluruhnya. Kepada
negara diharapkan jaminan pemenuhan hak kebebasan, keadilan diwujudkan, hukum
dan ketertiban ditegakkan, kemajuan dan kemakmuran tercipta.
Kebebasan menghasilkan keanekaragaman pendapat, kepentingan,
bentuk mata pencarian dan lain sebagainya. Orang yang menginginkan kebebasan
harus mengakui adanya keanekaragaman dan bahkan menginginkannya. Setiap orang
mempunyai bakat, pendidikan, lingkungan, pekerjaan dan pengalaman yang berbeda
dan terwujudlah keanekaragaman. Keanekaragaman masyarakat manusia adalah
kenyataan sejarah yang tidak perlu dipertanyakan. Meskipun demikian, Dalam
keanekaragaman masyarakat manusia tetap ada keikaan. Meskipun manusia berbeda-beda, pada hakekatnya hanya ada
satu ras, yaitu ras manusia. Keikaan
manusia adalah pada martabat manusia, dan oleh karena itu sistem politik yang
sesuai untuk manusia yang beranekaragam adalah yang sesuai dengan martabat
manusia. Pemahaman terhadap keanekaragaman tercermin dalam kemampuan untuk menahan
penilaian sendiri. Seorang "pluralis" bisa menerima keanekaragaman
sebagai sesuatu yang seharusnya ada. Di samping kebebasan, perkembangan manusia
membutuhkan situasi yang berbeda-beda. Individu bebas cepat bosan berada dalam
situasi yang sama dan akibatnya kurang mampu mengembangkan diri. Keanekaragaman
situasi akan mendukung kreativitas seseorang. Individu yang bebas dan kreatif
akan membuat masyarakat lebih dinamis, sekaligus memajukan negara demokrasi.
Kebebasan
membutuhkan toleransi, yaitu mengakui hak menentukan sendiri yang dimiliki orang lain.
Toleransi menghormati kebebasan orang lain. Kebebasan pribadi harus mendapat
perlindungan dari tirani penguasa dan tirani pendapat mayoritas. Walaupun
kehendak mayoritas akan menjadi kebijakan negara, tetapi harus dihindari
perampasan kebebasan pribadi. Toleransi dibutuhkan oleh karena disadari tidak
ada manusia yang mempunyai kebenaran mutlak sepanjang masa. Toleransi juga
perasaan jujur dari dalam diri manusia, bahwa mungkin saja kebenaran ada di
pihak lain. Orang yang toleran mendengarkan pendapat orang lain termasuk yang
dianggap salah menyanggahnya dengan adu argumentasi dan tidak menyerang pribadi
yang mengemukakan pendapat tersebut.
Orang
toleran lebih mudah berdialog dan bekerja sama dengan orang lain. Dalam
diskusi, setiap pemikiran diuji kelebihan dan kekurangannya. Melalui berbagai
diskusi dapat ditemukan sintesa dari berbagai pemikiran, yang lebih mendekati
kebenaran daripada pendapat sendiri yang terisolasi. Sintesa seperti ini
memberi kemungkinan lebih besar dalam menghasilkan keputusan yang baik.
Pandangan asing, pemikiran yang aneh dan cara baru yang ditawarkan dalam
diskusi akan memperkaya kehidupan individu dan masyarakat. Sebaliknya
keputusan-keputusan tidak rasional dicapai di bawah tekanan emosi. Menjadikan
emosi dasar pengambilan keputusan adalah cara yang otoriter. Sikap otoriter
juga ditemukan pada kaum dogmatis, yang terlalu yakin bahwa mereka sangat
mengetahui, tidak mau meneliti lebih lanjut dan tidak bersedia menguji
kebenarannya. Kaum dogmatis yang menjadi penguasa tidak memberikan kesempatan
orang lain mengkritik kebenaran mereka. Siapa saja yang mempermasalahkan
kebenaran mereka akan dicap subversif. Ada hubungan psikologis antara dogmatis
dalam filsafat dengan otoriterisme dalam politik. Kaum dogmatis menggiring
massa, bukan kemana massa ingin pergi, tetapi kemana kaum dogmatis mengharuskan
mereka pergi. Kebebasan adalah prosedur tentang bagaimana setiap kebenaran
dapat digugat. Fakta yang diolah secara rasional akan menghasilkan kebenaran
yang bisa jadi menyanggah kebenaran terdahulu. Kebebasan juga prosedur
pencarian kebenaran secara terus menerus. Kebenaran yang satu disanggah oleh
kebenaran yang lainnya, demikian selanjutnya. Proses ini adalah pengolahan fakta
secara rasional dalam suasana bebas.
Negara demokrasi adalah wahana dimana masyarakat bebas dan
otoritas negara dapat hidup damai, saling berinteraksi
dan saling menghormati. Itu pula sebabnya, mengapa perjuangan mewujudkan negara
demokrasi akan lebih baik kalau dilakukan bersamaan dengan perjuangan kebebasan
manusia. Martabat manusia terpelihara pada manusia yang bebas, karena kebebasan
adalah bagian dari martabat manusia dan dengan kebebasan manusia dapat
mengembangkan diri, menggunakan akal dan nurani, dan bertanggung jawab atas
perbuatannya.
Kebebasan berkumpul dan berserikat dibutuhkan dalam
kehidupan kenegaraan, karena perjuangan secara sendiri-sendiri pengaruhnya
kecil. Masyarakat perlu membiasakan diri berkumpul mendiskusikan berbagai
permasalahan. Mendapatkan lebih banyak informasi dan menemukan berbagai
kesepakatan dalam upaya mewujudkan kemajuan bersama. Pertemuan seperti ini
menjadi awal yang baik bagi upaya peningkatan partisipasi politik masyarakat.
Berbagai pemikiran yang beranekaragam dapat disampaikan dan mendapat tanggapan
dari warga lain. Setiap peserta pertemuan berusaha berbicara dan mendengar dengan baik, kemudian terbiasa berdialog, dan kebiasaan ini
menjadi modal penting dalam pengembangan budaya demokrasi. Bukan mustahil,
beberapa pertemuan sepakat membentuk organisasi perjuangan, yang akan menjadi
wahana perjuangan bersama. Buruh membutuhkan serikat buruh, petani membutuhkan
serikat petani, guru membutuhkan serikat guru dan seterusnya. Warganegara yang
mempunyai kepentingan sama lebih balk berjuang bersama-sama. Partisipasi
politik masyarakat dengan menggunakan organisasi disertai dengan penyampaian
tuntutan di depan umum memberi kesempatan kepada negara untuk mengetahui apa
yang dikehendaki masyarakat. Penyampaikan pendapat dilaksanakan dengan damai
dan ditindaklanjuti dengan dialog yang sederajat antara masyarakat dengan negara.
Imam-imam pemimpin upacara molamoa pada masyarakat suku
Pamona di Sulawesi Tengah adalah perempuan yang dianggap dekat dengan dunia roh
yang disebut wurake. Kenyataan ini memperlihatkan bahwa dalam gotongroyong
derajat perempuan tidak lebih rendah dari laki-laki. Dalam semua kegiatan
gotongroyong laki-laki dan perempuan kerja bersama, dengan pembagian kerja
sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Dalam gotongroyong bercocok tanam,
laki-laki dewasa membuka hutan dan perempuan menyiapkan makanan dan menyiangi.
Gotongroyong membagi tugas, tetapi tidak membedakan derajat pesertanya.
Kehidupan di masa lampau, waktu jumlah manusia masih sedikit dan kehidupannya
masih sederhana, sebelum muncul penguasa-penguasa, nilai kesetaraan berlaku,
dan diyakini kebenarannya. Kalau mereka membutuhkan seorang atau beberapa orang
pemimpin, mereka akan memilihnya, dan mempercayakan kekuasaan kepada pemimpin
tersebut. Pemimpin ini memimpin warga masyarakat dalam menyusun berbagai
peraturan yang akan mereka taati bersama-sama. Tetapi dalam perjalanan sejarah
selanjutnya, bisa saja pemimpin ini menjadi otoriter dan kemudian mewariskan
kekuasaan kepada keturunannya. Dan kalau hal ini berlangsung dalam waktu lama,
dari satu generasi ke generasi selanjutnya, terjadilah hirarki sosial, dengan
terbentuknya kelas pemerintah dan kelas masyarakat biasa yang harus bersedia
diperintah. Logika kesetaraan dibuang untuk waktu yang cukup lama.
Dan tentang kesederajatan manusia, Thomas Paine dalam bukunya
berjudul Daulat Manusia, mengungkapkan bahwa hak kodrati manusia perlu dilacak
sampai ke saat penciptaan manusia, yaitu prinsip Ilahi bahwa hak kodrati
manusia adalah sama, sebab persamaan itu berasal dari Pencipta. Semua manusia
hanya memiliki satu derajat, oleh karena itu semua manusia dilahirkan sama
dengan hak kodrat yang sama, seolah-olah setiap generasi adalah ciptaan Tuhan,
dan sumber kehidupan setiap bayi adalah Tuhan sendiri. Generasi yang satu
dihubungkan dengan generasi selanjutnya bukan oleh keturunan tetapi oleh
penciptaan Tuhan. Hak kodrati manusia diterima oleh setiap manusia dalam
kualitas dan kuantitas yang sama, langsung dari Tuhan melalui penciptaan, bukan
melalui keturunan. Konsekwensi dari pemikiran ini, hak kodrati manusia tidak
ada hubungan dengan garis keturunan. Paine juga mengungkapkan bahwa salah satu
kejahatan besar yang dilakukan oleh semua. Pemerintah di Eropa adalah menjauhkan
manusia dari Penciptanya.
Gotongroyong berangkat dari kesadaran manusia bebas yang
saling membutuhkan. Manusia tidak hidup sendiri di dunia ini, tetapi
dikelilingi oleh masyarakat. Dengan demikian dalam kehidupannya manusia bebas
mandiri ini merasa saling tergantung satu dengan yang lain, dan dengan sukarela
mereka bergotongroyong. Gotongroyong mengakui kesetaraan martabat manusia, oleh
karena itu keikutsertaan seseorang dalam kegiatan gotongroyong adalah sukarela.
peserta gotongroyong adalah manusia bebas, setara dan mandiri, dan ia ikut
gotongroyong karena menyadari bahwa semua orang cepat atau lambat membutuhkan
bantuan orang lain. Gotongroyong adalah kerjasama sekelompok warga masyarakat
yang menyadari kesalingtergantungan mereka dalam menghadapi tantangan alam
terlalu berat untuk dipikul sendiri. Manusia gotongroyong adalah masyarakat
egaliter, kerjasama secara sukarela, pekerja keras, bantu membantu, hidup
bersama dan sadar bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri.
D. Gotongroyong Adalah Musyawarah
Gotongroyong diawali dengan musyawarah karena gotongroyong
adalah kerjasama oleh manusia bebas dan setara. Musyawarah mempertimbangkan
semua pendapat peserta gotongroyong. Gotongroyong di Sulawesi Tenggara dimulai
dengan musyawarah. Sebelum pelaksanaan kegiatan gotongroyong, warga peserta
mengadakan musyawarah untuk mencapai mufakat antara lain tentang bentuk
kegiatan, waktu, tempat, hak dan kewajiban para peserta, sehingga banyak
kegiatan gotongroyong sukses dan jarang terjadi konflik. Mapalus di Minahasa, marsiadapari
di Tapanuli, markarah pembangunan
rumah di Simalungun, pemane kolo rai
di Sabu dan sintuwu di Sulawesi Tengah adalah contoh gotongroyong yang dimulai
dengan musyawarah untuk mencapai mufakat.
Melalui musyawarah
berbagai pendapat yang beranekaragam didengar dan dijadikan bahan
pertimbangan dalam membuat kesepakatan. Tentu
ada pihak yang pendapatnya lebih banyak mendapat perhatian peserta
gotongroyong, misalnya karena pengalaman dan atau keterampilan yang
dimilikinya. Berburu hewan liar di Sumatera Selatan membutuhkan siasat dan
pimpinan dari pawangnya dan upacara Mosehe di kabupaten Kendari dipimpin oleh Mbusehe, mulai dari perencanaan sampai pelaksanaan. Rencana kerja dan pembagian
tugas dibicarakan dalam musyawarah, sehingga setiap peserta mengetahui apa yang
akan dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya, dan hasil yang akan didapat oleh
peserta. Musyawarah ini juga menjamin pembagian hasil yang adil. Dalam mapalus membuka kebun baru misalnya, setiap peserta
akhirnya akan memiliki kebun sendiri. Modalnya adalah kerjasama, kerja keras, musyawarah,
bantu-membantu dan menyiapkan makanan secukupnya pada waktu gotongroyong mapalus berlangsung di kebunnya.
Musyawarah adalah proses pengambilan
keputusan dengan mendengarkan, memperhatikan dan mempertimbangkan berbagai
pendapat dari semua peserta pertemuan. Setelah semua pihak menyampaikan
pendapatnya, peserta pertemuan mendiskusikan berbagai pendapat tersebut, dan
kemudian disusun suatu kesepakatan bersama. Dalam musyawarah penentuan
kesepakatan lebih banyak ditentukan oleh kebenaran dan atau kebaikan dari suatu
gagasan. Dalam musyawarah keputusan tidak mempertimbangkan besarnya suara yang
mendukung suatu gagasan. Isi kesepakatan kerapkali adalah gabungan dari
berbagai gagasan yang muncul dalam pertemuan tersebut. Oleh karena itu
kesepakatan hasil dari suatu musyawarah sering lebih sesuai dengan
kebutuhan dari masyarakat luas. Itu pula yang menjadi penyebab
mengapa gotongroyong, yang adalah kerjasama sukarela dari masyarakat bebas, setara
dan mandiri memilih cara musyawarah dalam mempersiapkan rencana kerja.
Gotongroyong berjalan berdasarkan musyawarah dan kebiasaan bermusyawarah akan
membuat manusia cenderung bergotongroyong, baik dalam kehidupan kemasyarakatan
maupun kehidupan kenegaraan. Gotongroyong adalah musyawarah, demikian pula
sebaliknya musyawarah mengarah ke gotongroyong. Manusia yang bermusyawarah harus
siap melanjutkannya dengan gotongroyong.
E. Gotongroyong Berdasarkan Semangat
Persaudaraan
Dalam pelaksanaan mapalus, dan
juga dalam berbagai bentuk gotongroyong lainnya, apabila seorang peserta tidak
bisa hadir, misalnya karena sakit, orang tersebut diperbolehkan mencari
gantinya, atau menggantikan waktu kerjanya pada tahun depan.
Kemudahan ini berangkat dari semangat persaudaraan yang hidup dalam masyarakat.
Sesama warga masyarakat, khususnya warga bertetangga, mengakui persaudaraan
mereka, dan oleh karena itu bantu-membantu adalah kebutuhan. Markarah pembangunan
rumah di Simalungun dan ngarawah namun lewo
masyarakat Dayak Manyaan di Kalimantan Selatan dengan maksud agar semua
penduduk desa, termasuk keluarga miskin memiliki rumah sendiri didasari oleh
semangat persaudaraan. Dan persaudaraan tidak terganggu hanya karena seorang
peserta gotongroyong tidak hadir pada waktunya.
Semangat persaudaraan didasari
pengakuan bahwa semua manusia bersaudara, dan pengakuan ini diwujudkan dalam
perilaku: "semua bertanggung jawab untuk semua". Semua warga dapat
berbagi rasa dan berbagi beban, dan mekanisme berbagi rasa dan berbagi beban dapat
dilaksanakan secara langsung ataupun tidak langsung. Pada masyarakat desa,
mekanisme langsung lebih banyak terjadi, tetapi dalam kehidupan kenegaraan
digunakan mekanisme tidak langsung. Kalau mekanisme berbagi rasa dan berbagi
beban tidak terjadi pada sekelompok orang yang menempati suatu wilayah
tertentu, kelompok orang tersebut hanya sekumpulan individu yang kebetulan
tinggal di tempat yang sama. Kelompok orang-orang tersebut hanya kebetulan saja
menempati wilayah yang sama, tetapi tidak saling peduli satu dengan yang lain,
oleh karena tidak terbentuk tali persaudaraan pada mereka. Keberadaan
kelompok manusia seperti ini rapuh.
Kelangsungan hidup individu,
masyarakat, negara, dan kelanggengan bangsa manusia dapat terwujud apabila
bersedia hidup bersama dalam semangat persaudaraan. Masyarakat gotongroyong
hanya akan terwujud kalau individu yang satu dapat merasakan penderitaan dan
atau kebahagiaan individu yang lain. Bantu membantu tenaga dan pemikiran adalah
penerapan semangat persaudaraan.yang paling sederhana, mudah dan manusiawi.
Semua orang membutuhkan dan semua orang dapat melakukannya. Penerapan semangat
persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat akan memberikan rasa aman, karena
ada jaminan dalam keadaan sulit akan ada warga masyarakat yang datang membantu.
Kebersamaan seperti ini bukan suatu yang terjadi dengan tiba-tiba, tetapi hasil
dari perjalanan hidup yang panjang. Kebersamaan ini harus terus dipupuk dengan
selalu mengedepankan kepentingan bersama. Individu yang satu dengan yang lain
bisa saja mempunyai pemikiran dan kepentingan yang berbeda, tetapi kalau suatu
masyarakat hendak bertahan hidup dan berkembang, harus bersedia hidup bersama
dalam semangat persaudaraan. Dalam kehidupan ini, warga masyarakat yang kaya
memberikan sebagian kekayaannya membantu yang miskin, si kuat menggunakan
kekuatannya menolong si lemah, penguasa menggunakan kekuasaannya membantu yang tidak
kuasa, orang sehat mengurus yang sakit, dan orang hidup mengurus yang mati.
Dalam upaya mempertahankan
kelanggengan bangsa manusia, masyarakat harus siap hidup bersama dalam semangat
persaudaraan. Di atas segala perbedaan yang ada, seperti ras, suku, agama,
profesi, hak milik, kepandaian, dan berbagai perbedaan lain, disepakati
kebaikan bersama dan diperjuangkan bersama. Kesejahteraan, keadilan dan
kemajuan bagi semua adalah cita-cita yang ditentukan bersama dan harus
diperjuangkan bersama-sama. Demikian pula dalam kehidupan kenegaraan, berbagai
kelompok masyarakat dalam suatu negara bisa saja mempunyai kepentingan yang
berbeda-beda, atau bahkan bertentangan, tetapi kalau kehidupan bersama mau
diwujudkan, dibutuhkan dialog terbuka untuk mendapatkan kesepakatan.
Kesombongan kelompok harus dibuang, saling pengertian diutamakan dan dengan
demikian kehidupan bersama dapat diwujudkan. Hidup bersama bagi bangsa manusia
adalah suatu keharusan, demi kelanggengan bangsa manusia, dan juga untuk
memungkinkan manusia mengembangkan diri, semakin pintar, semakin cerdas, dan
mampu menciptakan peralatan yang dari waktu ke waktu semakin canggih.
Hidup bersama dalam semangat
persaudaraan adalah bagian dari tanggungjawab asasi manusia. Dengan kemampuan
berpikirnya, manusia adalah mahluk hidup yang paling kuat dan oleh karena itu
paling bertanggung jawab. Kehidupan di jagad raya ini, menjadi baik atau
menjadi buruk terutama ditentukan oleh manusia. Lingkungan hidup akan menjadi
baik atau rusak terutama ditentukan oleh bangsa manusia. Oleh karena itu,
bangsa-bangsa sedunia harus bersatu mewujudkan kehidupan yang lebih baik,
demokratis, damai dan adil di tengah lingkungan hidup yang lestari.
Ketidakadilan harus dilawan dan diganti dengan keadilan.
Ketimpangan ekonomi harus dikurangi, agar kemajuan bersama dapat diwujudkan.
Hidup bersama dalam semangat persaudaraan mewujudkan keadilan sosial, dan
keadilan sosial memperkuat demokrasi.
Hidup bersama dalam suatu
negara dapat terwujud kalau ada kesadaran akan cita-cita bersama, kesetaraan,
kebebasan dan toleransi, dan dijiwai oleh semangat persaudaran, sebagai suatu
bangsa yang telah memilih hidup
bersama. Martabat manusia terpelihara dalam semangat persaudaraan, karena
persaudaraan ini menjadi jaminan bagi kelanggengan bangsa manusia dan kehidupan
yang layak bagi semua. Dalam kehidupan kenegaraan, semua warganegara harus
dapat berbagi rasa dan berbagi beban, langsung atau tidak langsung, agar
kehidupan kenegaraan terwujud. Persaudaraan manusia harus terus dipelihara
dalam semua bidang kehidupan, sebagai bagian dari penerapan martabat manusia
demi kebaikan bersama. Penderitaan seseorang atau suatu masyarakat dapat
dirasakan yang lain dan kemudian bersama-sama menanggulanginya.
Suatu bangsa harus mampu bangkit, menjawab penderitaan dari
sebagian warga bangsa yang sedang menderita, karena dengan persaudaraan itulah
suatu bangsa terbentuk, bertahan hidup dan kemudian bergerak maju. Pembelaan
kepada yang lemah harus diperkuat oleh karena kaum lemah tidak dapat membela
dirinya sendiri. Kaum miskin tidak dapat membela kepentingannya secara
perorangan. Rakyat secara bersama-sama berjuang keras di semua bidang
kehidupan, terutama di bidang politik, mendorong negara membuat kebijakan yang
membuka semua sumberdaya terhadap kaum miskin. Rasa kebangsaan Indonesia yang
sedang merosot ini hanya dapat kita pulihkan dalam kebersamaan kita sebagai
suatu bangsa, baik dalam suka ataupun duka.
Hatta menawarkan kebersamaan melalui gagasan cita-cita tolong-menolong.
Hatta mengungkapkan pemikirannya tentang: “.... cita-cita
tolong-menolong! Sanubari rakyat Indonesia penuh dengan rasa bersama,
kolektiviteit. Kalau seseorang di desa hendak membuat rumah atau mengejarkan
sawah ataupun ditimpa bala kematian, maka ia tak perlu membayar tukang atau
menggaji orang kuli untuk menolong dia. Melainkan ia ditolong bersama-sama oleh
orang-orang sedesa".
Gotongroyong berburu di Sumatera Selatan dilaksanakan untuk
berbagai tujuan. Berburu rusa untuk konsumsi, berburu babi hutan dan gajah
karena hewan tersebut merusak kebun, dan berburu harimau karena hewan tersebut
masuk kampung mengancam penduduk. Berburu dengan berbagai tujuan tersebut sulit dikerjakan sendiri, apalagi
dengan peralatan yang sangat sederhana. Masyarakat akhirnya bersepakat
menghadapi kondisi tersebut bersama-sama secara gotongroyong, tidak ada yang
membayar dan tidak ada yang dibayar. Semua ikut bersepakat, semua bekerja,
semua berkeringat, dan semua hidup bahagia. Seberat apapun permasalahan
dihadapi, karena masyarakat berjuang bersama, beban menjadi lebih ringan.
Gotongroyong adalah menghadapi permasalahan bersama dan menjawabnya
bersama-sama demi kebaikan bersama.
F. Gotongroyong
Mengakui Hak Milik Pribadi dan Menambahkannya
Manusia dalam kehidupannya membutuhkan harta milik pribadi,
terutama alat produksi. Petani memiliki lahan dan alat pertanian, peternak
memiliki ternak dan padang penggembalaan, nelayan memiliki perahu atau kapal
penangkap ikan, petambak ikan memiliki tambak, dan seterusnya. Semua keluarga
mempunyai rumah tinggal sendiri, tempat mereka memelihara dan mendidik anak-anaknya.
Pemilikan alat produksi oleh perorangan menjadi sangat strategis, agar
masyarakat dapat mengimbangi negara yang kekuasaannya sangat besar. Interaksi
politik negara dengan masyarakat yang seimbang menjadi jaminan kuatnya kendali
rakyat terhadap negara.
Gotongroyong pembangunan tempat tinggal,
seperti markarah
di Simalungun dan
membangun rumah di Stabatlama,
Sumatera Utara, ngarawah namun lewo masyarakat Dayak Manyan di Kalimantan Selatan, membangun rumah
tradisional di Sulawesi Tenggara dan sambatan membangun rumah di
Yogyakarta bertujuan untuk membantu warga masyarakat, termasuk warga miskin,
memiliki tempat tinggal sendiri, walaupun sederhana. Gotongroyong pembangunan
rumah ini dilaksanakan dari mulai penyiapan bahan bangunan sampai selesai dan
dapat dihuni. Modal calon pemilik rumah adalah kerelaan bergotongroyong dan
makanan secukupnya. Semakin banyak peserta gotongroyong, semakin banyak rumah
dibangun dan semakin banyak harta milik warga masyarakat. Masyarakat
gotongroyong, dengan modal kerjasama, kerja keras, bantu-membantu dan makanan
secukupnya untuk dimakan bersama pada waktu gotongroyong, seperti mapalus
di Minahasa, peladang berpindah di Sulawesi Tenggara, dan
berkebun di pedesaan Riau, akhirnya dapat menghasilkan lahan pertanian untuk
masing-masing peserta. Ternyata gotongroyong bercocok tanam, selain
memperbanyak persediaan bahan pangan, juga menambah harta milik petani berupa
lahan pertanian. Gotongroyong pembuatan lesung batu oleh masyarakat suku Batak
di Tapanuli akan menambah jumlah keluarga pemilik lesung batu di tiap-tiap
desa, demikian pula dengan gotongroyong pembuatan perahu pada masyarakat suku
Tomia di Sulawesi Tenggara menambah banyak jumlah perahu milik warga setempat.
Pembuatan lesung batu dan perahu ini terlalu berat untuk dikerjakan oleh satu
keluarga, pada waktu tidak ada keluarga
yang cukup kaya untuk membayar tenaga tukang.
Gotongroyong mengakui hak milik pribadi, dan bahkan dapat
menambah harta milik pribadi. Oleh karena itu, gotongroyong dapat dijadikan
jalan keluar bagi kaum miskin dari perangkap kemiskinan yang menjeratnya.
Dengan bergotongroyong kaum miskin secara bersama-sama dapat menambah harta
miliknya, seperti menambah lahan pertanian, tempat tinggal, perahu dan lesung
batu. Gotongroyong digunakan untuk pemerataan ekonomi sekaligus dengan.
pertumbuhannya. Gotongroyong membuat masyarakat semakin makmur secara merata. Gotongroyong
mewujudkan masyarakat adil makmur.
G.
Manusia Gotongroyong Berkepercayaan
Manusia gotongroyong percaya bahwa di atas manusia ada
kekuatan yang menentukan kehidupannya. Baik buruknya kehidupan ini dipercaya tidak
hanya ditentukan oleh manusia, tetapi juga oleh kekuatan lain di atas manusia.
Upacara berkepercayaan, seperti pemane
kolo rai di Sabu, Nusa Tenggara Timur,
mosehe di desa Benua (Kendari) dan padungku di Sulawesi Tengah dilaksanakan secara gotongroyong.
Masyarakat percaya berbagai upacara berkepercayaan adalah kebutuhan bersama, dan
oleh karena itu dilaksanakan bersama, bantu-membantu demi kebaikan bersama.
Kepercayaan masyarakat di Indonesia banyak berubah, tetapi pelaksanaan
upacaranya masih tetap secara gotongroyong.
Perubahan kepercayaan terjadi dengan
damai, karena walaupun kepercayaan mereka berbeda, masyarakat tetap mengakui
persaudaraannya, dan bergotongroyong dalam berkepercayaan. Kepercayaan ikut
menambah keanekaragaman masyarakat, tetapi cara hidup gotongroyong membuat
masyarakat tetap dapat saling membantu. Berbagai perbedaan tidak dijadikan
alasan untuk bermusuhan. Masyarakat gotongroyong menghadapi berbagai
permasalahan dalam masyarakat termasuk akibat perbedaan kepercayaan, secara
bersama, bantu membantu dalam semangat persaudaraan, demi kebaikan bersama.
Masyarakat gotongroyong menghasilkan kebersamaan dalam segala aspek kehidupan,
termasuk dalam berkepercayaan.
Komentar
Posting Komentar